*Aku membuatkan FF ini untuk chingu baruku, Triesna. Mian kalau postnya lama ^^


Author: Rahmafi3
Casts: Kim Hyeo Nha (Triesna)
Kim Dong Wook

Aku adalah penunggang kuda terbaik yang pernah ada di korea. Tidak ada satupun orang yang bisa mengalahkanku sampai detik ini. Dan inilah aku.

“bagaimana masih mau coba lagi?” aku baru saja mengalahkan orang baru di club kami. Aku adalah anak pemilik tempat pacuan kuda tersohor yang ada di korea. Tentu saja aku pewarisnya walaupun aku perempuan. Aku menguji semua orang yang mau bergabung ke tempatku.
“jadi aku masuk tidak?” si orang baru gemetar. Mungkin aku sedikit keras. Aku menjawabnya dengan senyuman. Aku suka semakin banyak orang yang berkumpul di tempatku.
“Hyeo nha, kau dipanggil appamu.” Salah satu pekerja memberitahuku. Kami menganggap semuanya seperti keluarga. Mereka sudah lama bekerja pada ayahku. “baik.” Aku langsung pergi. “hei kau belum memberikan jawabanmu.” Si orang baru berseru. Aku membalik badan “datang saja besok , baru aku beritahu.” Sambil melambaikan tangan. Nanti saja aku pikirkan.
Tempat pacuan kuda kami yang paling sering mengadakan pertandingan. Yang resmi maupun tidak. Aku menyukai pertandingan pacuan kuda, sangat menyukainya. Tapi sekarang aku harus menemui ayahku.
“appa memanggilku?” aku sudah berada di ruangannya. Ruangan ini jarang sekali dia pakai sebenarnya, dia lebih sering langsung turun ke lapangan, kalian tahu maksudkukan? “ne.” Dia langsung menghadapku. Ayahku adalah orang yang baik. “apa kau sudah menyelesaikan semuanya?” dia menanyakan tugasku. “tentu saja sudah. Seperti yang ayah beritahu.” Aku meyakinkannya.
“kau tahukan. Mereka adalah orang yang penting bagi ayah. Ayah ingin semuanya berjalan dengan lancar.” Aku mengerti. Banyak sekali orang penting yang datang ke tempat kami. Tapi ayahku adalah orang yang royal. Dia selalu setia. Mungkin kalian tidak tahu apa yang kubicarakan, tapi kau tahu. Kami akan kedatangan tamu ayah. Dia adalah teman lama ayah yang sudah sukses sekarang. Mereka semua akan datang besok, dan ayahku mau semuanya berjalan dengan sempurna.

~ ~

Semua hal dimulai dari lari pagi. Aku sudah berlari sejam. Dari jam enam pagi sampai jam tujuh. Itu rutinitasku. Kemudian aku langsung masuk ke dalam rumah.
“Hyeo nha? Kenapa kau belum siap-siap?” ayahku terkejut karena aku belum melakukan apapun. “memangnya mereka akan datang jam berapa?”tanyaku, melihat ayahku sudah rapi. “jam delapan. Cepat sana-sana kau harus merapikan dirimu.” Ayahku mendorongku ke arah kamar. Aku hanya menurut dan cekikikan semakin tua ayahku tingkahnya semakin seperti anak TK.

Semuanya sudah selesai. Aku sudah memakai baju terusan berwarna coklat muda. Kontras sekali dengan kulitku. Aku juga memakai sedikit make up. Hanya untuk membuat wajahku segar. Aku lebih suka yang natural. Tidak akan membuat efek berlebihan. Aku berputar di depan kaca sekali. Sudah cukup. Kemudian aku keluar kamar.
“pagi!” semua pekerja disana menyapaku. Setidaknya semua melihatku. Aku sedikit senang. Bahkan ayahku terkejut melihatku. Kemudian ia fokus pada jamnya.
Itu mereka sudah datang. Mereka memakai mobil berwarna hitam. Warnanya memantulkan kembali cahaya matahari yang indah. Membuat mobil itu seperti bersinar. Sayangnya aku tdak tahu-menahu merek mobil. Aku juga tidak tahu jenisnya. Kau hanya bisa menanyakanku jenis kuda, aku tahu semuanya.
Mereka berdua turun dari mobil. Sepertinya ibu dan anak. Si wanita turun dan tersenyum pada ayahku. Dia pasti mengenalnya aku menarik kesimpulan kalau dialah teman ayahku itu.dan mungkin yang laki-laki itu adalah anaknya.
“sudah lama sekali ya.” Kata si wanita kepada ayahku kemudian mereka berpelukan seperti teman lama yang sudah tidak bertemu bertahun-tahun. Mungkin memang seperti itu adanya.
“dan tunggu dulu siapa ini?” dia melihatku. Aku tersenyum menghargainya. “apa ini anakmu?” tanyanya pada appaku. “ya, hyeo nha.” Kemudian mata si wanita berbinar-binar. “anakmu cantik sekali. Dia benar-benar mirip ibunya.” Rona wajah ayahku sedikit berubah. Dan si wanita itu tahu. “oh maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggungmu.” Appaku hanya menggangguk mengatakan kalau dia tidak apa-apa kemudian kami semua masuk ke dalam rumah.
Ibuku sudah meninggalkan aku dan ayahku. Aku yang sekarang menggantikan tugasnya. Untuk mengecek para pekerja dan mengetes semua orang diperkumpulan kami. Ibuku pergi saat dia mau melahirkan adikku. Ibuku cukup tua pada saat itu. Karena jikalau adikku lahir perbedaan umur kami sekitar duabelas tahun. Kemudian tidak ada satupun dari mereka yang selamat. Ayahku benar-benar menderita di saat itu. Tapi seperti yang kubilang dia adalah orang yang setia. Tak pernah terlintas dipikirannya untuk menikah lagi. Walaupun di dalam kamusku juga tidak ada kata ibu tiri.

Ayahku mengajak kami semua untuk makan. Kemudian mereka mengobrol-ngobrol tentang masa lalu mereka. Ternyata tamu ayah yang permpuan ini adalah penunggang kuda juga dulu. Tapi sayangnya dia tidak terlalu mahir. Dan lebih memilih untuk menjadi pengusaha seperti sekarang. Tapi dia tidak menyangka kalau menunggangi kuda juga bisa sebagai peluang bisnis. Dan ayahku juga sukses sepertinya.
“eommeona! Aku lupa. Kau juga diam saja dari tadi.” Wanita itu menoleh ke arah anaknya yang diam saja dari tadi. “perkenalkan ini anakku. Dong wook. Dia sedang kuliah di jurusan art. Aku tidak tahu, semua anak zaman sekarang berlomba untuk masuk jurusan itu. Padahal dia bisa melanjutkan usahaku. Ckck.” Wanita itu menggelengkan kepalanya. Sepertinya anaknya itu anak tunggal.
“anakku ini sangat pemalu. Apa kau tahu bagaimana caranya agar dia tidak menjadi pemalu seperti sekarang?” ayahku berpikir sebentar. “hyeo nha, bisakah kau mengajaknya berkeliling-keliling. Dan mungkin dia bisa ikut pertemuan club kita hari ini.” Ayahku memintaku. “perkumpulan kita jam 1 siang ini.” Aku memberitahu ayahku. “ya sudah kau ajak saja dia berkeliling-keliling dulu.”

Aku menunjukkan tempat pacuan kuda kami. Menunjukkan kandang-kandang, dan tempat pemerahan susu. Kami juga punya kuda betina. Dan dari raut wajahnya, bisa kubaca kalau dia tidak pernah melihat hal seperti ini.
Sekarang sudah jam 12. Dong wook sedang bersama ayahku. Karena aku harus mengganti pakaianku. Dengan baju berkudaku. Setelah itu aku turun kebawah. Menunggunya. Mungkin ayahku menyuruhnya memakai pakaian berkuda. Mungkin. Kalau dia mau memakainya.
Itu dia datang. Terkejut denganku. Sepertinya dia menganggapku menjadi sangat berbeda saat memakai baju ini. “bagaimana bajunya?” aku menanyakan pendapatnya tentang baju seragam berkuda kami. Yang perempuan dan laki-laki di bedakan. Perempuan memakai warna merah dan laki-laki warna biru. Tapi karena aku mempunyai hak disini. Jadi bajuku gabungan warna diantara keduanya. “bagus juga.” Dia menghargai baju yang dia kenakan.
Aku meluluskan si orang baru kemarin. Dia sedikit jago. Mungkin kami akan mengasahnya disini. Tapi sekarang Dong Wooklah sia orang baru.
Aku menariknya ke kandang kuda. Dia bingung tapi menurut. Walaupun dia sedikit terseret. Tak kusangka dia benar-benar pemalu. “nah sekarang pilih kudamu.” Aku menyuruhnya untuk memilih. Kemudian dia mendekati semua kuda. Semua kuda menjauh saat dia datang mendekat. Dan hanya satu yang tidak. “apa kau memberi mereka semua nama?” tanyanya penasaran. Kemudian mulai menyodorkan tangannya ke arah salah satu kuda. “tentu saja.” Aku yakin.
“kalau begitu boleh aku pilih yang ini. Siapa namanya?” dia sedikit tersenyum. Sambil mengelus kuda itu. Dari berjalan-jalan dengannya seharian baru kali ini dia tersenyum. “George. Semua kuda kami adalah yang tercepat.” Aku sedikit memamerkan tempat kami.
“apa kau bisa menunggang kuda?” dan kuyakin jawabanya tidak. Dia menggeleng “aku hanya melihat orang menunggang kuda di film.” Aku tersenyum mendengar kata-katanya. “sini”. Kemudian mengeluarkan george dari kandang.
“kau tahu? George termasuk salah satu kuda favoritku disini. Dia kuda yang cantik. Tubuhnya berwarna putih. Dan kalau kau melihatnya sedang berlari. Dia benar-benar anggun.” Aku memegang tali george yang sudah kupasang dengan dudukan penunggang.
“sepertinya kau tahu banyak.” Katanya polos. Aku hanya bisa tersenyum mendengar semua perkataannya. “nah sekarang coba kau naik.” Aku memberikan tali pegangan kuda itu kepadanya.
“apa?!” katanya terkejut. “kau yang memilih kuda ini. Jadi kau juga yang harus menaikinya.” Dia berpikir. “tapi aku tidak bisa.” Dia masih menolak.
“sudah naik saja sana.” Dia sudah memegang talinya. “bagaimana cara naiknya.” Dia membuatku tertawa. Dan salah seorang dari perkumpulan kami tertawa. Posisiku sedang digantikan dengan pekerja kami. “letakkan kakimu disini.” Aku memberitahunya cara menaikinya. George tersentak, Dong Wook naik dengan terburu-buru itu penyebabnya. Raut takut melintas di wajahnya. “bagaimana?” dia mengangguk sedikit. Dan aku tertawa lagi.
“bagaimana cara mengajaknya berjalan-jalan?” Dong Wook semangat. Baru kali ini dia mengeluarkan emosi. “kau hanya tinggal menghentakkan tali ditanganmu beriringan dengan kakimu. Kalau kau ingin berbelok kau hanyatinggal menggerakkan tali yang kau pegang ke kanan dan ke kiri. Begitu pula jika ingin berhenti.” Aku menjelaskan dengan singkat. Dan sepertinya dia mengerti.
“kalau aku berhasil. Kau adalah guru terbaik yang pernah ada.” Kemudian dia melakukan apa yang kukatakan tadi. Dan ternyata george juga sedang bersemangat. Dan hal yang terjadi adalah kuda itu berlari dengan sangat kencang.
Mereka memutari arena pacuan kuda sebanyak dua kali. Kemudian Dong Wook berhenti di depanku. Walaupun dia masih kesulitan dengan cara berhenti. Dia sedikit melewatiku kemudian berhenti. Dia turun dengan melompat. Kemudian berlari ke arahku.
“HYEO NHA!!” dia memelukku. “aku senang sekali. Adrenalinku sangat terpicu. Aku akan mencobanya lagi.”dia membuat aku berputar-putar. Aku hanya tertawa. “pengalaman pertamaku menaiki kuda hebat sekali.” Dia berteriak. Semua orang di clubku tertawa. Apalagi aku? Aku yakin dia mengeluarkan semua tenanganya. Dan pertama kali untuk tidak malu. Padahal saat pertama kali bertemu. Dia bahkan takut untuk bertatapan langsung ke arahku.

~~

Sudah sore. Dong Wook dan ibunya mulai berpamitan pada kami. Setengah enam sore. Ayahku sudah menawarkan pada mereka untuk tinggal beberapa hari disini. Tapi umma DongWook tidak bisa. Aku dan ayah mengantar mereka ke mobil.
Dong Wook memelukku sebentar. “gamsahamnida. Hari ini benar-benar hari yang tidak akan bisa kulupakan.” Dia berterimakasih padaku. “kuharap kau bisa datang ke tempatku.” Aku bingung. “untuk apa?” tanyaku. “aku akan memberitahumu tempat yang menarik di soul.” Ibukota ya. Aku hanya tersenyum. Kemudian mengangguk walaupun tidak yakin. Dia membalas dengan senyuman bersemangat.
Ummanya juga berpamitan kepada ayahku. Lalu mereka masuk ke dalam mobil seperti biasa, melambaikan tangan. DongWook masih bersemangat. Lambaian tangannya cepat sekali. Aku membalasnya dengan tertawa. Mereka pergi.
Aku memikirkan kata-kata DongWook.

Mungkinkah aku akan pergi ke soul?…

*the end


author:”kalau mau fanfiction buatannya aku post kirim aja ke email rahma301@yahoo.com atau mau aku bikinin tapi castsnya kamu chingu boleh, sms aja ke 081264905263 kasih tau aku nama asli kamu trus nama kamu yang lain (nama korea, nama jepang, nama inggris, dll) dan kasih tau aku casts lawan mainnya (boyband, solo, aktor/aktris.) thanks!!

follow me in facebook rahma301@yahoo.com (rahma fridayana)

twitter @ottershimi.

Advertisements

About 501island

Hi, There! Just visit this fansite^^ fanfiction, news, and others.. let's play around

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s