Author:rahmafi3
Casts: kim sunhee (rana rafidah)
Lee jinki (shinee onew)
Yoo seung ho
Park rinrin (admin)
Kim seung won (wina viqa)
Yoo Eun Young

Aku berlari-lari kecil dari temanku yang jahat. Tak sanggup lagi berlari kencang, seluruh tenagaku terkuras habis. Aku berhenti di belokan, dan berjongkok. Kemudian menutup mulutku agar aku tidak berteriak, aku menangis, mataku kabur, sekarang aku merasa takut yang amat sangat. Pasrah… aku sudah tidak kuat lagi.

*flashback

”sunhee-sunhee!” seseorang meneriakkan namaku dari belakang. ”hosh-hosh” suaranya yang kelelahan setelah berlari-lari. ”lho, rinrin ada apa?” aku menoleh ke belakang menunggunya agar sampai ke tempatku. ”kamu mau ke kelas jinki oppa kan?” tanyanya. Mataku menyelidik, ”hmm… ne, kenapa?”, ”jebal, kembalikan buku ini” ia menyodorkan sebuah buku padaku, aku membolak-balik bukunya. Tapi tak ada nama jinki disana, ”ini buku siapa?” tanyaku. ”kekeke, buku yoo seung ho oppa, tolong ya!” katanya sambil tersenyum dan langsung berlari menjauh. Dia memang menyukai yoo seung ho.
”sunhee!!^^” sapa jinki oppa, dia sudah menungguku didepan pintu kelasnya. ”kkaja!!” dia menarikku menjauh. ”oppa, aku harus mengembalikan buku ini.” aku menunjukkan buku itu. ”punya siapa?” sepertinya ia merengut karena itu bukan bukunya. ”haha, tenang. Temanku hanya menitipkannya.” aku berusaha menenangkannya.

Hari yang indah. “seung ho oppa aegyo!!!” teriak salah satu penggemar yoo seung ho yang gila, rinrin. Mereka sedang melihat-lihat kelas seung ho. “lihat-lihat dia mau keluar dari kelasnya!” teriak eun young, tidak mau kalah. “saranghae oppa,” bisik rinrin.
Kemudian yoo seung ho keluar dari kelasnya. Dua orang tadi menatapnya, ingin disapa. “annyeong!” sapa mereka berdua, malu-malu. Yoo seung ho membalasnya dengan tersenyum. Spontan dua orang yang tidak penting itu meleleh. Dasar, pikirku.
Aku terus berjalan menuju kelas, sharing pelajaran dengan teman yang lain, terlalu rajin. Heh….
Masuklah rinrin dan eun young, mereka sedang adu mulut, bertengkar tepatnya. “yoo seung ho tadi tersenyum padaku!” eun young memulai.. “enak saja, kau sudah jelas-jelas lihat kan kalau barusan dia tersenyum padaku, senyumnya seperti malaikat.” Rinrin melayang.

“jelas dia tersenyum padaku!”
“bukan, tapi padaku!”
`“PADAKU!!”
`“PADAKU!!”
`“PADAKU!!”
`“PADAKU!!”

Mereka terus bertengkar, dan satu kata terakhir yang sangat kudengar, “AKU MEMBENCIMU!!” teriak kira. “AKU JUGA MEMBENCIMU, LEBIH DARI KAU.” Rinrin membalas, kemudian mereka bubar.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

9:45

Bel istirahat berbunyi. Aku dan yang lainnya pergi ke kantin. “sunhee, bagaimana kau selesai tugas kita tadi?” tanya junri tidak percaya. Entah apa yang dia pikirkan, sepertinya pikirannya agak terganggu. “eh junri hati-hati!” teriakku, aku melihat seseorang yang berlari kearahnya. “hmm… apa?” katanya linglung.

Bruaakkk…..

“JUNRI-AHHH!!!!!” aku berteriak sekeras mungkin. Shock. Dia menumpahkan minumannya ke seragamku. Ottokhae?
“sunhee. Mian-mian-mian!!!” dia panik, bahkan lebih panik dariku. “gwencanayo?” tanyanya melihatku. “apa menurutmu aku akan marah padamu?” kataku tersenyum sinis, sayangnya dia tidak melihat kesinisan di sana. “oh… untunglah, padahal kukira kau akan marah.” Katanya lega. “JUNRI-AHHH!!!” teriakku dan memarahinya habis-habisan. bukan salahnya memang. Tapi dia tidak cepat tanggap.

Aku berjalan pelan ke arah kamar mandi sambil mengelap baju seragamku. Kemudian seseorang menabrakku. “rinrinshi?” pikirku, ia tampak terburu-buru. Yah, sebenarnya sudah bel masuk tapi bagaimana aku bisa masuk dengan baju yang kotor seperti ini.
Huh.. dasar Junri. Aku membuka pintu kamar mandi yang macet karena karatan dengan keras.
“AAAAA!!!” aku berteriak sekeras-kerasnya. Histeris. Ada seorang anak perempuan yang tergeletak disana. Berdarah. Tidak bergerak. Dan satu-satunya opsi yang kupikirkan adalah… dia sudah mati. Aku menutup mulut. Meringis. Menangis. Baru kali ini aku menemukan mayat yang entah baru dibunuh atau bunuh diri. Aku membalik badannya dengan kakiku, perlahan.
Aku mengenal wajahnya. Yoo Eun Young. Ada 3 tusukan yang ada di tubuhnya. Aku memijak darahnya. Becek. Jantung, perut, dan sayatan di leher. Keadaan yang mengenaskan. Kalau kau mengangkatnya, aku merasa lehernya nyaris putus. Siapa yang tega berbuat ini? Sekelilingku mulai ricuh. Semua anak yang mendengar teriakanku keluar dari kelas mereka menuju kamar mandi putri.
Tidak bisa melihat apa-apa. Air mataku sudah menutupi penglihatanku. Banyak murid perempuan yang berteriak sepertiku. Semua teman eunyoung dan yang lain. Bahkan yoo seungho menutup matanya.
Tiba-tiba ada dua lengan memelukku dari belakang. Aku langsung bersandar padanya. Lee JinKi. Onew oppa tahu bagaimana perasaanku. Walaupun dia tahu aku kurang dekat dengannya, tapi kami sudah sekelas sejak lama.
Datanglah para guru untuk membubarkan kerumunan semua murid yang ingin tahu. Semua murid enggan meninggalkan tempat kejadian. Mereka semua mulai berdorongan masuk dan keluar. Aku membeku. Bahkan tidak sadar kalau jinki sudah menyeretku menjauh dari kerumunan. Semua pergi ke kelas. Sedangkan aku pergi ke UKS.
Mobil ambulance dan polisi mulai ricuh. Mereka sampai tepat pada waktunya. Guru-guru menunjukkan lokasi. Sedangkan aku menjadi saksi.
Aku tidak tahu apa-apa. Dan itu memang benar.
Polisi memberi laporan. Mereka menemukan sebuah pisau berukuran 25 centimeter bergagang hitam dan mengkilap di dalam kamar mandi. Tetapi pelakunya tidak dapat ditangkap. Tidak ada sidik jari. Tidak ditemukannya bukti lain. Tidak ada saksi mata. Tidak ada latar belakang sang pembunuh. Tidak ada apa-apa. Seakan sang pembunuh sudah menyusun rencana ini sejak lama.
Aku masuk ke dalam kelas dengan goyah. Kelas yang ribut.
“sunhee-sunhee! Bagaimana?” tanya salah satu temanku yang penasaran. Kemudian mengurungkan niatnya melihatku yang masih pucat.
Aku duduk di bangkuku. Semua orang masih ribut. Tidak ada guru yang mengawas. Tapi murid tidak diperbolehkan untuk keluar kelas.
“aku pikir, sepertinya pembunuhnya adalah park rinrin.” Aku mendengar obrolan mereka.
“ya, aku pun begitu.”
“dia yang terakhir kontak dengan eun young kan?”
“mereka bertengkar.”
Pembicaraan mereka terputus. Seorang guru masuk ke dalam kelas. Pemberitahuan. Semua murid diharuskan keluar kelas dan berkumpul di auditorium.dan semua guru-guru berjaga di sekitar lokasi kejadian.
“sunhee!” Kira mengagetkanku. “bagaimana kalau kita selidiki?”
“apa?” aku masih belum mengerti.
Selidiki. Apa kau mau ikut? Kau juga bisa membawa jinki untuk melindungi kita.”
Aku masih berfikir.
“aku, seungwon, kau, dan jinki. Bagaimana?” tanyanya lagi.
“ya aku mau.” Jawabku datar. Kematian eun young memang sangat misterius bagiku.
“kkaja!” dia mengajak kami semua keluar. Kami meninggalkan tas di dalam kelas seperti yang lainnya. Dan seharusnya kami berada di auditorium. Kami malah berjalan-jalan.
“tersangka kita yang pertama adalah park rinrin.” Semua orang setuju denganku. Jinki sudah bergabung bersama kami.
“apa kalian tahu. Sebelum meninggal, eun yeoung sempat pergi ke gudang sekolah bersama rinrin?” celetuk salah satu temanku. Seungwon. Murid terpintar di kelas. Cahaya berkelebat di kacamatanya.
Dengan berlari kami menuju gudang sekolah di tempat yang paling terpencil disekolah. Tidak ada guru sepanjang perjalanan kami. Gudang sekolah memang agak jauh dari sekolah. Dan kami berharap bisa menemukan bukti.
“tidak ada apa-apa disni.” Jinki masuk duluan. Tempat ini gelap sekali. Dan cahaya satu-satunya dari ventilasi yang kecil. “dari mana kau tahu mereka tadi kemari?” tanya jinki.
“karena sebelum mereka kemari. Yoo seung ho disuruh menyimpan bola basket kesini.” Jawab seungwon.
“huh pantas saja.” Kira mulai mengoceh.
“jadi untuk apa kita kemari. Ayo kita ke tempat lain.”kami mualai beranjak pergi. Memang tidak ada apa-apa yang bisa kami temukan.
Aku berjalan duluan dan disusul yang lain. Berjalan menjauhi gudang dan kembali ke sekolah.

“sunhee tunggu sebentar dimana kira?” seungwon menarik tanganku. Dan aku baru sadar. Kira sudah tidak bersama kami lagi.
“jinki oppa dimana kira?” aku bertanya pada jinki. Karena dia berjalan paling belakang.
“sepertinya hanya aku yang di belakang.” Jinki menjawab. Sepertinya dia memang benar-benar tidak tahu.
“apa kita lanjut tanpanya?” seungwon angkat bicara lagi. “apa dia pergi ke auditorium seorang diri?” dia menambahkan.
Aku hanya mengangkat bahu. Dan kami memulai perjalanan lagi.

11:12

“waktu berlalu dengan sangat cepat.” Kataku. Selesai melihat jam di handphone.
“bagaimana kalau kita berpencar saja.” Seungwon memberi usul.
“itu bisa membuat pencarian kita menjadi lebih cepat.” Jinki setuju.
“bagaimana kalau aku akan mencari bukti di lantai dasar. Jinki oppa di lantai dua. Dan kau seungwon. Dilantai tiga?” aku menyarankan.
“kenapa kau menyarankanku ditempat yang mengerikan?” tanyanya tidak percaya.
“kenapa kau protes?” aku bertanya lagi pada seungwon.
“tempat kejadian itukan di lantai tiga!” dia meringis.
“kau jangan kesana dasar bodoh.” Aku menyadarkannya, “disana banyak guru yang berjaga.” Barulah dia mengangguk mengerti.
Aku mengisyaratkan untuk pergi.

*to be continued

Advertisements

About 501island

Hi, There! Just visit this fansite^^ fanfiction, news, and others.. let's play around

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s