Author :Rahmafi3

Casts: Kim Hyun Joong (ss501)
Heo Young Saeng (ss501)
Kim Kyu Jong (ss501)
Park Jung Min (ss501)
Kim Hyung Jun (ss501)

“Ketika kau akan mati, Malaikat Maut yang berbeda akan menjemputmu sebanyak lima kali. Kau harus memilih salah satu diantaranya kalau kau mau masuk surga. Kalau tidak Iblislah yang akan datang dan menjerumuskanmu ke dalam neraka.”

Dari semua kejadian aneh menimpaku, ini adalah kejadian yang paling aneh diantaranya. Tepat dihadapanku ada dua namja yang mengaku malaikat dan akan mencabut nyawaku.
“kau sudah tahu tujuanku kemari, kan?” kata namja yang baru datang. Aku tidak tahu benar-benar tidak tahu. Aku sudah saangat dekat dengan kematian sekarang. “jadi kau yang akan mati?” Katanya dengan penuh senyum. Aku merasakan angin dingin berhembus, walaupun jarakku dengannya hanya 2 meter. Hawa dinginnya terasa sakali. Dan itu membuatku bergidik dan memegangi kedua tanganku.
“aku memang penuh kharisma. Kau tidak akan menolakku.” Tunggu sebentar.. apa katanya tadi? Percaya diri sekali dia.
“kepercayaan diri itu bagus.” Lagi-lagi dia tersenyum. Aishh.. aku menjadi segan padanya. Jelas saja aku akan menolak namja ini dengan satu kali pertanyaan, kuharap dia tidak bisa membaca pikiran.
Atau mungkin dia tidak sempat membacanya karena sekarang dia sedang sibuk membolak-balik salah satu buku kematianku, maksudku novel ku. “apa ini buku cerita anak-anak?” tanyanya kebingungan. Aku tersenyum, “kau tidak tahu apa itu novel?” kuharap namja yang pertama akan ikut tertawa bersamaku. Tapi sepertinya dia juga tidak tahu apa itu novel.
“oh.. yang semua manusia baca. Yang kutahu semua isinya fiksi.” Dia mulai mengomel lagi. Tapi malaikat mautku yang pertama hanya mengangguk-angguk.

“omong-omong.. kau belum menjawab pertanyaanku.” Dia mengingatkan. “kau sudah tahu apa itu novel kan?” aku membalas dengan ingatanku. “bukan itu. Tapi aku benar-benar mencabut nyawamu sekarang. Sebelum waktunya habis.” Dia memandang jam kamarku. “oh itu..” aku mulai berpikir kemudian menjawab dengan mantap. “maaf, aku memang mau mati, tapi sepertinya tidak denganmu.”dan kalimatku membuatnya runtuh seketika. Malaikat pertamaku langsung tertawa pelan. Aku yakin dia pasti sangat geli karenanya.
Dengan kesal dia melempar buku novelku ke arahku. Dia benar-benar membuatku terkejut. Buku novel itu cukup tebal dengan hard cover. Pasti akan sangat sakit terkenanya. Aku menutup mataku, buku itu semakin dekat.
Aku tidak merasakan apa-apa. Ada tangan seseorang yang menangkap buku itu. Dia mengambilnya dengan tenang seakan dia baru saja memetiknya.
“harusnya kau tidak melakukan itu.” Katanya lembut. Malaikat kedua itu memutar matanya, seakan ada pernyataan konyol dilontarkan padanya. Dan bisa juga berarti dia tidak mau tahu. “kan ada kau?” kemudian mereka bertiga tertawa bersama-sama. Mereka membuatku gila.

 

 

Teng… Teng..
Teng..
Teng..Teng.. *anggap saja suara lonceng*

Aku terbangun. Masih berfikir apakah yang semalam itu mimpi? Atau bagaimana? Tapi kalau itu mimpi hal itu terasa benar-benar nyata. Dan aku mau mati rasanya. Aigoo, aku benar-benar bingung. Aku mengambil novel dari sisi kiriku. Dan kemudian sadar.
Semalam aku meletakkan novelku diatas meja, kemudian malaikat kedua itu membolak-baliknya dan melemparnya ke arahku. Mungkin karena kesal. Aku bisa memaklumi hal itu. Dan namja ketiga menangkapnya. Apa dia salah satu dari mereka? Dia juga memakai baju putih. Tapi kalau itu berarti dia salah satu dari mereka, apa dia malaikat mautku yang ketiga? Kenapa aku benar-benar penasaran? Tidak seperti dua malaikat yang kuhadapi biasa saja. Omona! Eothoekke???
Kalau begitu jawaban apa yang akan kuberikan kalau dia menanyakan pertanyaan yang sama.

Tiba-tiba suster masuk, menghentikan perang batinku.
Sudah tepat jam setengah tujuh pagi. Semua suster menuju kamar pasien masing-masing. Mungkin mereka akan segera memanggangku di bawah terik matahari, seperti yang biasa mereka lakukan. Aku tahu maksudnya, untuk mencegah berkembangnya bakteri dan virus dalam tubuh pasien. Tapi kurasa hal itu tidak berguna untukku. Yang aku mau hanya mendapat sarapanku. Dan aku haus, karena ketegangan semalam. Yang aku tidak tahu itu mimpi atau bukan.

Sudah jam 7 malam. Aku membalap makan malamku, membuat semua suster bingung. Tentu saja mereka bingung dengan tingkahku yang aneh dari pagi sampai sore. Aku menyapa semua orang yang bahkan aku tidak tahu namanya, itu memang sudah sering aku lakukan. Tapi aku mengajak suster kemana-mana, padahal aku jarang sekali menyuruh suster untuk menemaniku. Aku paling anti untuk melakukan hal itu.
Aku ini mandiri. Jadi aku mengobrol selama dia menemaniku. Membuat semua suster yang lain iri padanya. Dan dengan baik aku menerima makan siangku. Biasanya aku selalu melewatkan hal itu. Untuk diet, mungkin juga bukan karena itu karena aku sudah kurus, tapi kalau makan siang aku benar-benar tidak selera.
Setelah menelan habis semua makan malamku, aku masuk ke kamar dengan ceria. Tapi masih jam 8 malam. Malaikatku dating jam 9, aku harus menunggu satu jam lagi.

Aku benar-benar berusaha untuk tidak menutup mataku. Karena itu akan membuatku tidak tahu bagaimana cara dia datang, aku benar- benar penasaran. Mungkin akan lebih baik kalau aku menonton TV, jadi kuputuskan untuk menghidupkannya. Tapi tetap saja, mataku sangat berat. Akhirnya aku tertidur.

………………………………………………………………………………………………………………………………

“Wake up..” seseorang membisikkan ke telingaku. Dan aku merasakan seseorang mengelusku. Aku merasa seperti hewan peliharaan. Segera membuka mata. Dan firasatku benar ini namja ketiga semalam. Aku terkejut. Karena melihatnya tiba-tiba, dan dia berbaring di sampingku.
“Aahh…” suara keras terdengar, bukan dari teriakanku. Tapi suara tubuhku yang jatuh kelantai. Kepalaku terjedut meja, dan tanganku tidak meraih apa-apa untuk menahan tubuhku. Yang lebih parahnya aku tidak bisa berdiri. Eothoekke? Apa dia tahu aku cacat?

“Mianatha. Gwencanayo?” dia bangkit dan memegang tanganku. Menanyakan kondisiku. “sedikit sakit.” Aku meringis, dan mengomel. Dan hanya senyuman yang aku terima. Senyumannya benar-benar hangat. Aku seperti kembali pulang ke keluargaku.
Dia membantuku berdiri. Kemudian menopangkan badanku padanya. Tidak bisa kupungkiri, dia harum sekali. Sekarang, aku benar-benar ingin masuk surga.

Dia mendudukkanku di atas tempat tidur. Kemudian menidurkanku, sebenarnya aku bisa menidurkan diriku sendiri tanpa bantuannya. Baru kali ini benar yang biasa orang katakan, malaikat memang baik.
“jadi apa kau datang ke sini untuk mencabut nyawaku?” kataku setelah dia duduk nyaman di sampingku. Tapi sepertinya kata-kataku membuatnya terluka.
“sebenarnya, aku benar-benar tidak ingin melakukan hal ini. Tapi ini..” kata-katanya terhenti, “ini tugasku, dan aku tidak boleh lari darinya.” Sepertinya malaikat yang satu ini benar-benar baik. Aku jadi merasa rasa penasaranku memang pantas untuknya.
“maafkan temanku semalam.” Dia meminta maaf. “temanmu yang mana?” tanyaku, sudah tidak mengingat apa-apa lagi. “yang melempar buku kearahmu. Dia sedang bercanda waktu itu.” Katanya menjelaskan. Cara bercanda yang aneh. “dia memang sangat yakin waktu itu kalau aku akan datang tepat waktu dan itu memang benar.”
“oh..” aku sudah tidak tahu apa yang harus dikatakan. Kemudian teringat akan novel yang kubaca dua hari yang lalu. Novel itu nyaris benar mengatakan lima malaikat akan datang mencabut nyawaku, itu benar atau tidak yah?
“apa aku boleh bertanya?” kataku memecahkan lamunannya, dia sedang menatap kosong ke langit-langit. “boleh. Kau boleh menanyakan apapun.” Dia langsung berbalik dan tersenyum. Bagian yang paling aku senangi adalah disaat dia tersenyum. Aku bersyukur, ternyata malaikat sangat murah senyum.
“apa benar, setiap seseoarang akan mati akan ada lima malaikat yang mencabut nyawanya?” kataku dengan suara serak. Kulihat dari wajahnya sepertinya dia tidak akan memberikan jawabannya kepadaku. Kemudian dia menimbang-nimbangnya.
“semua tergantung pada keputusan-Nya. Kami tidak akan membantah. Karena Dia selalu benar dan Maha Benar. Ada yang lain?” dia bertanya untuk pertanyaan yang lain. Sepertinya tidak ada.

Malam menjadi berlalu dengan cepat. Aku dan dia mengobrol panjang lebar. Dan aku bahkan melupakan penyakitku untuk sementara. Sepertinya aku sudah rela meninggalkan ini semua. Dia tidak seperti malaikat yang lainnya. Tidak melontarkan pertanyaan padaku, malah aku yang melontarkan beberapa pertanyaan padanya.
Bahkan dia tidak melontarkan pertanyaan yang sangat penting. “kenapa kau tidak menanyakan kematianku?” Aku memulai pembicaraan yang serius sehabis tertawa. Rona wajahnya sehabis tertawa langsung menghilang mendengar pertanyaanku. “kau ingin aku pergi?” tanyanya kemudian. “oh ayolah. Bukan itu maksudku,” Kataku lagi, “aku hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini.” Kemudian dia tertegun. Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang. “aku tidak tahu kalau manusia menginginkan hal itu, tapi aku boleh tahu mengapa?”
“aku benar-benar lelah. Aku yakin keluargaku tidak menginginkanku, tidak juga. Mereka sayang padaku, dan itu membuatku kasihan pada mereka. aku masih muda, dan harusnya aku yang menanggung semua biaya, bukannya adikku. Dia masih kecil. Dan biaya rumah sakitku benar-benar mahal.” Tak terasa air mataku menetes. Kemudian dia menaruhku di bahunya. Menyembunyikan wajahku yang basah.
“kalau itu keinginginanmu, mungkin aku bisa mengabulkannya.” Katanya kemudian.

Aku merasa sekujur tubuhku merasakan panas yang teramat sangat. Benar-benar panas. Kemudian panas itu mulai berubah menjadi hangat, darahku masih mengalir. Kemudian semuanya dingin.
Aku membuka mata, dan melihat tubuhku berbaring kaku diatas tempat tidur rumash sakit. Tubuhku pucat, yang aku tahu darahku sudah tidak mengalir lagi. Mungkin aku sedikit menyesal. Dan setelah aku sadari aku bisa berdiri lagi. Malaikat itu berdisiri tepat disampingku. Tidak ada lagi beban yang terasa. Tubuhku menjadi teramat sangat ringan.

………………………………………………………………………………………………………………………………

Aku diizinkan untuk melihat hari keesokannya. Seluruh keluargaku ada disini. Ini adalah pagi yang sangat menggemparkan bagi mereka. ibuku menangis hebat di samping tubuhku yang sudah kaku, memaksa dokter untuk melakukan kejut jantung yang sudah tidak berguna lagi. Jantungku sudah cukup lama tak berdetak.
Sekali, dua kali, tidak ada apapun yang terjadi. Ibuku masih terisak, aku kasihan sekali padanya, tapi yang lebih membuatku kasihan, apabila aku masih hidup dan hanya menyusahkan mereka.
Aku sudah tidak mau melihat ini semua. Aku berbalik dan tersenyum pada malaikatku dan mengangguk. Dia sudah tahu artinya. Dan aku mulai terbang dengannya menuju tempat idaman semua orang. Surga.

 

 

*the end

Advertisements

About 501island

Hi, There! Just visit this fansite^^ fanfiction, news, and others.. let's play around

2 responses »

  1. 501island says:

    huaaaaaaaaaahhhhh………… mianatha chingudul…. selalu lupa buat ngepost 😦
    akhirnya libuuuurrrr…. jadi ingat ngepost kekeke^^
    coment pleaseeeeeeeeeee

  2. aah sayang jun sama leader ga disini ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s