Kekeke.. jeongmal mianatha… udah bener-bener lama gak ngepost. abisan asik ujian. mian buat eonni ^^

 

 

 

Author: Rahmafi3 (501island)

Casts: Park Jung Min (ss501)

Kim Seung Won (wina viqa)

Kim Hyun Jung (ss501)

Kim Hyung Jun (ss501)

Kim Kyu Jong (ss501)

Heo Young Saeng (ss501)

 

 

 

park jung min ss501

 

 

Pertama: aku kesasar. Kedua: aku tidak tahu aku ada dimana. Ketiga: aku tidak tahu kenapa aku bisa disini. Keempat: AKU TIDAK TAHU APA-APA, JADI JANGAN TANYA AKU!!!”, aku sudah tidak sadar. Aku mengeluarkan sifat asliku. Tapi aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Eottokhae?????

“aku hanyalah orang biasa, yang entah mengapa masuk ke dalam cermin rumahku sendiri.yang semua orang kenal dengan mitos. Dan aku tidak tahu aku sedang berada dimana sekarang.”

Aku adalah orang yang sangat mencintai diriku sendiri lebih dari apapun. Tapi benar-benar di luar dugaan, apa itu mitos kau akan ditarik oleh kaca. Heh, yang benar saja.

“Aku ada ide.”, seungwon memecahkan konflik batinku.

“mworagoyo??” kataku, merasa tidak percaya. Apa yang dia tahu???

“hmm.. mungkin kau hantu? Hehehe” katanya kemudian.

“kau tidak takut?” tanyaku menyadarkannya.

“tentu saja tidak.” Jawabnya mantab.

“benarkah?” aku masih tidak percaya. Tapi hal itu membuatnya berfikir cukup lama.

“tenang saja aku belum mati atau hal semacam itu belum terjadi padaku.” Kataku menjelaskan.

“jadi kenapa kau tiba-tiba ada di sekolahku?” tanyanya lagi, yeoja ini benar-benar berisik. Aku jadi merasa di kantor polisi.

“aku terjatuh dari cermin.” Aku mengatakannya sambil menunduk, aku yakin dia akan tertawa terbahak-bahak. Siapa yang percaya dengan hal seperti itu?

Tetapi dia tidak kunjung tertawa. Aku mengangkat kepalaku dan melihat mimik wajahnya. Sepertinya dia berfikir keras sekali. Dia mengerutkan dahinya.

Berfikir dua kali untuk mengatakan sesuatu padaku tetapi dia telan kembali.

“kau tahu.” Katanya tiba-tiba.

“mwo?” aku mendengarkannya dengan serius.

“20 tahun yang lalu, ada berita yang sangat menghebohkan korea.” dia memperlihatkan mimik orang pintar. Mudah-mudahan jawabannya tidak membuatku menyesal.

“terjadi perampokan di rumah seorang pria berumur 24 tahun. Ibu pria tersebut tidak apa-apa. Tetapi barang-barang dan pria tersebut sudah lenyap dari rumah mereka. Diduga kuat pria itu mereka culik selama 20 tahun.” Tentu saja pernyataannya membuatku shock. “dan 5 tahun kemudian rumah itu kebakaran. Setelah itu tidak ada lagi yang mengetahui kelanjutan cerita tersebut.” Kalimat tambahan yang diberikan seungwon makin membuat diriku serasa mau pingsan. Aku tidak bergerak beberapa menit. Kemudian membaringkan badanku pelan diatas tempat tidurnya.

“Hhhhh…”aku menghembuskan nafas berat.

Apa eommaku tidak ada lagi? Bagaimana dengan rumah kami. Apa yang bisa kulakukan untuk itu? Banyak sekali kekhawatiran di otakku.

Tiba-tiba seungwon berada di sampingku mengusap-usap bahuku pelan. Matanya mempunyai beribu arti. Yang dapat kuartikan hanya. ‘kau harus bersabar’. Aku hanya tersenyum kecil. Tanda penerimaan senyumannya.

……………………………………………………………………………………………………………………………….

Aku ikut ke sekolah seungwon. Tentu saja aku lebih baik bersama orang yang bisa melihatku, daripada bersama eomma seungwon yang akan bergidik kalau aku berada di dekatnya. Mungkin dia punya sedikit kelebihan pada makhluk asing dan tidak jelas sepertiku.

Jadi aku ikut bersama seungwon.

Seungwon mempunyai cukup banyak teman. Aku rasa yang berani mengajaknya benar-benar berbicara hanya yang benar-benar lancar berbahasa inggris. Tampaknya semua temannya takut mencoba mengobrol dengannya dengan bahasa inggris atau masih tidak percaya kalau dia bisa berbahasa korea. Sedikit-sedikit. Walaupun dia sudah sedia kamus besar bahasa korea di tangannya. Kekeke. Aku hanya bercanda, dia membawa kamus kantong bersamanya.

Jam istirahat datang.

Seungwon membuka bekalnya. Dia juga membawa laptop.

Dia menawari makanannya kepadaku. Aku bisa memegangnya. Tapi kuharap aku tidak akan membuat orang lain takut dengan melihat sendok melayang-layang. Sementara aku sibuk dengan makanan, seungwon lebih sibuk lagi dengan laptopnya. Mana ku tahu apa yang sedang dia lakukan. Itu urusannya.

“ini dia.” Dia menunjukkan scereen laptopnya. Ada bekas kebakaran disana. Dia membuka internet ternyata.

”mwo?” kataku masih belum tersambung.

“apa ini rumahmu?“ tanyanya memastikan.

”mana kutahu. Itukan sudah sisa-sia kebakarannya. Kau ini aneh sekali.”, aku menyadarkannya.

”lihat alamat yang tertera di bawah gambar, dasar babo!” katanya mengataiku.

”aishh..” aku kesal dengan perkataannya, tetapi langsung membaca alamat yang tertera di bawah gambar. Benar-benar membacanya dengan teliti. Dan dia benar. Itu alamat rumahku.

”apa ini alamat rumahmu?” tanyanya lagi.

Aku tidak dapat berkata apa-apa. Mataku menajam melihat kebawah. Dan anggukan kecilku berarti banyak. Dia langsung menegtahui perasaanku.

”apa kau mau ke tempat ini sekarang?” tanyanya lagi.

………………………………………………………………………………………………………………………………

Seungwon memprint berita tadi di lab sekolahnya. Dan sepulang sekolah ini kami langsung mencari rumahku.

Sebenarnya mungkin aku bisa tahu jalan pulang kalau aku tahu aku berada dimana. Tapi seoul sudah benar-benar jauh berbeda.

Seungwon bertanya dengan orang-orang yang lewat. Kemudian kami naik kereta, berjalan kaki, dan bis. Kuharap kami tidak kesasar. Menurutku seungwon orang yang tidak tahu arah.

”gamsahamnida.” ini adalah orang ke 501 yang ditanyai oleh seungwon. Dia dan aku sudah menghabiskan empat botol air mineral. Ternyata jauh sekali rumahku dari tempat tadi.

”jadi kemana lagi?” tanyaku pada seungwon. Pertanyaan yang selalu kulontarkan saat dia sudah selesai bertanya pada orang-orang.

”katanya kita hanya perlu belok disana.” katanya sambil menunjuk ke arah depan. Dan itu artinya kami harus berjalan lagi.

Akhirnya kami sampai.

Jalan ini masih tetap sama. Mungkin hanya diperbaiki saja. Tetapi rumah tetanggaku sudah berbeda. Mungkin mereka sudah merenovasinya. Tetapi rumahku sudah menghilang. Tidak ada yang membersihkan rumahku. Masih banyak debu-debu disini. Kayu dan lain-lain. Tapi rumah ini benar-benar tidak bersisa. Kau dapat melihatnya sudah rata dengan tanah.

Aku terhenti. Kemudian maju beberapa langkah. Sungwon diam saja di belakangku. Membiarkanku sendirian. Pelan-pelan aku memasuki rumahku. Pagarnya yag terbuat dari besi sebagiannya sudah hilang, dan sisanya sudah benar-benar diselimuti oleh karat. Aku memegangnya, menimbulkan kotor di jariku. Kemudian aku menunduk untuk melihat  batas pintu rumahku. Pintunya sudah benar-benar tidak ada. Bahkan sudah ada rumput liar yang tumbuh disini.

Aku masuk lebih dalam lagi. Sampai di depan kamarku dan mulai membayangkan kaca itu. Kemudian mengingat lagi saat eommaku menyuruhku untuk makan malam. Aku memintanya untuk menunggu sebentar lagi. Dan akhirnya aku tidak bisa menemuinya untuk selamanya. Bahkan sampai saat ini. Aku tidakbisa melindungi eommaku saat perampokan rumahku terjadi. Bisa saja eommaku terluka dan hal lainnya terjadipadanya. Aku benar-benar anak yang tidak berguna.

Ingin rasanya aku menangis. Tapi aku tidak tahu mengapa, mataku sudah cukup perih. Tapi tidak ada setetespun airmata yang keluar. Kupikir untuk kesekian kalinya. Untuk apa pada saat itu aku menjepret diriku? Tanyaku dalam hati.

Tunggu sebentar…

Aku membawa hp ku sampai sekarang. Dengan cepat aku mengeluarkannya dan berlari kearah seungwon.

”seungwon-ah, aku masih menyimpan ini.” aku menunjukkan hp ku padanya.

”apa masih berfungsi?” wajahnya berseri. Menandakan masih ada harapan.

Aku mulai mengecek hp ku ternyata masih berrfungsi.

”tapi lihat sudah hampir lowbat.” kataku menyadarkannya.

”mungkin kita bisa save beberapa no saudara dan temanmu terlebih dahulu.” dia mengingatkan. Hp ku memang hampir lowbat saat aku terjatuh. Benar-benar aneh saat ini hp ku belum mati juga.

Seungwon menyimpan empat nomor temanku dan satu no eommaku. Dan aku menyimpan nomornya.

”kita coba yang mana dulu tanyanya.?” aku langsung menyarankan hyunjung. Salah satu temanku. Mungkin dia bisa membantu.

Seungwon sudah mulai memanggilnya….

Nomornya tersambung. Tetapi pemilik telfonnya tidak mengangkatnya. Aku yakin, pasti karena nomor yang tidak dikenal.

Aku meyuruh seungwon memanggil youngsaeng. Kemudian dia memanggilnya……….

Nomornya bahkan tidak tersambung sama sekali. Tampaknya dia tidak menghidupkan hp nya. Atau dia sedang memakai nomornya yang lain. Atau mungkin dia sudah mengganti nomornya? Itu benar-benar kebiasaan youngsaeng. Harusnya aku dapat memakluminya, karena itu kebiasaannya. Tapi aku kesal karena ini benar-benar mendesak.

Aishhh….. aku menyuruh seungwon memanggil jun. Benar-benar menyebalkan kalau dia tidak mengangkat telfonnya.

Nomornya tersambung seperti hyujung tadi. Kami menunggu cukup lama. Ternyata dia memang tidak mengangkat telfonnya. Kekesalanku memuncak. Kenapa dia tidak mengangkatnya? Apa karena nomor ini tidak dikenal?

”ini nomor yang terakhir.” kata seungwon hampir kehilangan harapan sama sepertiku.

Kali ini dia mencoba no eommaku…..

Tetapi sepertinya no ini sudah tidak aktif lagi. Dan hp seungwon sudah lowbat. Haripun sudah malam. Pasti eomma seungwon sudah khawatir.

”maafkan aku.” katanya kemudian.

”sudah tidak apa-apa.” kataku. Meyakinkan diri seungwon, dan malah sepertinya meyakinkan diriku sendiri.

”semua temanmu tidak menjawab telfonnya.” katanya, ”kita sudah menelfon empat orang dan tidak ada hasil” sambungnya lagi.

Aku menghitung dalam hati. Hyunjung, youngsaeng, hyungjun dan eommaku. Tidak ada yang mengangkat telfon. Dan aku menyadari masih ada seorang lagi yang belum kami telfon.

”bagaimana dengan no temanku yang satu lagi?” kataku, menyambung lagi. Aku baru teringat, kalau kami belum menghubungi kyu.

Seungwon sampai bergetar saat mencari no kyu karena ingin cepat-cepat.

Dia memanggil kyu…………

Telfonnya tersambung. Hari sudah malam. Aku harus memulangkan seungwon. Kami berdua benar-benar berharap kalau kyu mengangkat telfonnya. Tapi sepertinya tetap tidak ada harapan. Sudah lama sekali hanya nada sambung yang kami dengar. Sepertinyapemilik telefon sedang berfikir-fikir untuk menjawb telfonnya atau tidak. Firasatku memburuk.

Karena tiba-tiba nada sambung sudah tidak terdengar lagi. Apakah telfonnya mati atau apa aku tidak tahu.

”oh kumohon tersambung.” aku benar-benar tidak tahan.

Sudah cukup lama aku rasa telfon itu mati.

Kemudian yang aku dan seungwon tidak menyadarinya seseoarng berbicara di telfon.

”yeobosoyeo?”

Aku dan seungwon saling menatap. Mengatakan dalam hati. ADA HARAPAN.

*to be continued

Advertisements

About 501island

Hi, There! Just visit this fansite^^ fanfiction, news, and others.. let's play around

4 responses »

  1. 501island says:

    kekeke mian uda lama g ngepost 🙂

    Leave comment 🙂 kekeke

  2. Kyura says:

    cool.. ^^

  3. ika says:

    kalo part 3 nya uda keluar
    kasi tw ia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s