Mianhane 😦 atas keterlambatan yang benar-benar ini. hiks..hikss tetapi ujianku sudah selesai. 🙂 hehehe jadi udah kagak hiatus lagi^^

 

 

Author: rahmafi3

Casts: Sulli (f(x))

Victoria (f(x))

Key (Shinee)

Henry (SuperJuniorM)

Donghae (SuperJunior)

Genre: comedy romantic

 

 

Aku merasa diremehkan oleh seorang yeoja yang kelainan. Emosiku masih memuncak. Bahkan hari ini pun aku melihat mereka berdua berpelukan. Sangat banyak orang disini. Mereka berdua sangat-sangatlah aneh.

 

cute henry super junior M member handsome talent

 

“Ya!!” teriakku pada mereka berdua. Berjalan ke tengah-tengah. Memisah pelukan mereka. menarik teman sekelasku. Sekarang hening. Semua orang terdiam. Bahkan couple ini melihatku dengan tatapan aneh. Tapi teman sekelasku yang kutarik menyorotkan rasa amarah padaku.

Tanpa berkata apa-apa aku menariknya dari kerumunan. Meninggalkan pasangannya di tengah-tengah. Aku harus cukup kuat, karena orang yang kutarik-tarik meronta-ronta dengan keras.

“Ya! Lepaskan aku.” Katanya.

Sepertinya aku sudah menariknya cukup jauh. Kami berada di belakang sekolah sekarang. Kemudian aku melepaskannya.

 

PplllaaaKKK…. *suara tamparan

 

Mataku terbuka lebar sangking terkejutnya. Apa baru saja dia menamparku??

“apa enak??” tanyanya, benar-benar menunjukkan kemarahannya. Sepertinya aku membuatnya jengkel. “kau mau lagi?” tanyanya.

“kenapa kau menamparku?” tanyaku. Merasa tidak bersalah. “aku sudah membantumu keluar dari kerumunan itu tadi kan? Harusnya kau berterima kasih.” Kataku. Membuat pembelaan.

“kalau kau tidak tahu apa-apa ya sudah. Tidak usah ikut campur. Kau tahu? Itu benar-benar menjengkelkan.” Dia menekankan intonasinya pada kata ‘tidak tahu apa-apa’ dan ‘menjengkelkan’. Aishh… jeongmal.

“o, iya. Satu lagi.” Katanya tiba-tiba membalikkan badannya. “jangan muncul di hadapanku lagi. Kalau itu terjadi aku akan membunuhmu.” Telunjukknya langsung mengarah ke wajahku. Aku membatu. Kemudian dia melanjutkan kepergiannya.

 

pretty victoria f(x) cute

 

 

“JEONGMAAALLLLLL!!!!!!” teriakku. Bersama donghae temanku.

“sabar-sabar. Kau harus sabar.” Katanya kemudian.

“bagaimana aku bisa sabar coba??? Aku sudah membantunya. Kau tahukan semalam ramainya bukan main yang menonton mereka. apa dia tidak merasa malu?? Apa aku salah? Sepertinya aku sudah benar. Aku juga membantu seonsaeng yang tidak kunjung datang bukan? Setelah itu baru kau pergi ke tempat seonsaeng untuk memberitahunya. Eotheokke?? Aku jadi tidak tahu kenapa bisa begitu?? Aku benar kan? Perbuatanku benar kan??” aku mulai berceloteh. Donghae sudah menunjukkan wajah terganggunya karena aku mengomel seperti anak kecil.

“itu menurutmu benar. Coba pikirkan menurutnya. Mungkin kau salah. Kupikir tidak ada yang harus diperdebatkan disini.” Donghae mengeluarkan kata-kata bijaknya.

“jadi menurutmu aku salah juga. Kau tahu dia menamparku.” Aku menekankan kata ‘menamparku’ padanya.

“benarkah dia menamparmu?” akhirnya dia khawatir saat aku mengatakan kata menampar padanya.

“ya, keras sekali. Kau tahu saat aku melihat di kaca. Bentuk tangannya benar-benar berbekas.” Aku mengadu padanya. Yang seharusnya tidak kulakukan. Dia mulai menahan tawa. Yang akhirnya meledak juga.

“kau.” Dia menunjukku. “ditampar” senyumnya mulai merekah. “dengan seorang perempuan??” tanyanya. Yang akhirnya tawa  besarnya meledak. “HAHAHA tak kusangka… kau ini.. jeongmal…”

 

donghae super junir cute handsome

 

 

 

 

 

 

“baiklah-baiklah tertawalah sesuka hatimu. Tertawakan saja temanmu yang sedang kesusahan ini.” Kataku ngambek padanya.

Tawanya tidak kunjung berhenti. Akhirnya aku keluar dari kamarnya. Dan langsung pulang kerumahku tanpa melihat kebelakang. Terserahlah dia mengejarku atau tidak.

 

……………………………………………………………………………………………………………………………….

 

 

Aku menendang kaleng minuman sepanjang perjalanan pulangku. Sudah malam. Dan dingin sekali. Aku lupa membawa jaketku. Aku salah sudah datang kerumah donghae, sahabatku untuk meminta nasihat. Nyatanya dia malah menertawakanku.

 

 

“lepaskan aku.” Aku mendengar teriakan wanita saat melewati taman bermain anak-anak.

Aku berlari untuk memastikan dari mana datangnya suara itu. Ternyata ada dua orang namja dengan seorang yeoja. Aku tidak tahu apakah namja itu mabuk. Yang jelas mereka berdua memegang tangan yeoja itu dengan kasar.

 

“YAA!!” seruku dari kejauhan. Dan membuat efek dramatis. Karena ini sudah larut malam. Suaraku adalah suara satu-satunya yang terdengar disini.

 

“siapa kau? Sok mau jadi pahlawan ya??” tanya salah satu dari mereka.

“pulanglah kerumah ibumu. Sebelum kau kami buat menangis. Hei bocah.” Kata namja yang lain. Kemudian mereka tertawa. Itu membuatku semakin jengkel.

 

Aku mulai mendekati mereka. sampai dua meter jarak mereka dan aku. Kemudian aku mengenali wajah yeoja itu.

“victoria?” bisikku tidak percaya. Wajahnya yang menjengkelkan tadi siang, kali ini penuh dengan sorot ketakutan. Aku baru sadar, ada belanjaan berserakan. Bahkan plastiknya saja sudah koyak. Sepertinya tadi dia sudah berniat lari.

 

“oh.. kalian saling kenal ya?” tanya namja yang memegangi tangan victoria.

“bolehkah kami meminjamnya malam ini? HAHAHA.” Mereka berdua tertawa seperti orang gila. Aishh jeongmal. Aku sudah benar-benar kesal. Sepertinya aku bisa melampiaskan kemarahanku.

 

“lepaskan tanganmu dari yeojachinguku.” Kataku pelan. Tapi wajahku sudah memerah.

 

Aku melayangkan tinjuku yang pertama untuk orang yang paling dekat denganku. Membuatnya terpental cukup jauh. Untung saja kekesalanku tadi siang belum hilang. Jadi aku punya cukup kekuatan untuk meninjunya.

“hanya segitu yang kau punya?” tanyaku. Menunjukkan senyum devilku padanya.

Mendatangi namja yang kedua. Dia sudah tidak memegangi tangan victoria. Dan mulai mengepalkan kedua tangannya. Dengan keras aku menunjukkan tendangan berputarku. Sudah lama sekali aku tidak berkelahi seperti ini.

 

“ce-cepat ayo pergi. Kkaja!” namja yang pertama sudah bangkit. Dan menolong namja yang baru saja kutendang. Mereka lari.

 

 

 

“sudah kau tidak usah berterima kasih.” Kataku berbalik menghadap victoria.

“siapa yang mau berterimakasih.” Dia malah menyangkal pernyataanku, sambil memunguti minuman yang baru saja ia beli.

“apa katamu?” aku masih tidak percaya. “aku baru saja membantumu, tahu. Aisshhh jeongmal. Wanita tidak tahu terima kasih.” Aku berbalik dan berjalan. Apalagi sekarang? Aku sudah menolongnya, ini yang dia berikan. Sebuah penolakan?

 

Aku melihat kebelakang sekali. Tapi dia malah tidak menghiraukanku. Seperti hanya sendirian disini.

“ya!” serunya saat aku masih beberapa meter darinya. Yang aku tahu, suaranya masih bergetar akibat ketakutan tadi. Tapi dia sengaja memantapkannya seperti tidak terjadi apapun. “ambil ini.” Dia melemparkan minuman soda padaku. Yang aku tangkap dengan canggung.

“oh.. gamsahamnida.” Kataku.

“maukah kau mengantarku pulang.” Ia mengatakan itu dengan penuh malu. Dan menunduk. Tidak berani menatapku.

“ah.. ne.” Aku menganggukkan kepalaku, walaupun tahu dia tidak melihat. Akhirnya aku mengantarnya pulang.

 

“jadi dimana rumahmu??” kataku karena kami sudah berjalan cukup lama dengan kecanggungan. “apakah masih jauh?” tanyaku padanya.

“masih.” Suaranya sangat datar. Aku tidak berani melihatnya untuk memastikan emosinya.

Aku menimbang-nimbang untuk bertanya kenapa dia menamparku tadi. Tapi apakah itu akan merusak suasana. Aku menarik nafas hendak bicara. Tetapi mengeluarkannya lagi. Aku melakukannya berulang-ulang.

 

“aku menyesal menamparmu tadi.” Katanya menundukkan wajahnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya walaupun mengintip. Rambutnya menghalangi pandanganku.

“kau akan kumaafkan.” Kataku, membuat bebannya sedikit berkurang.

“tidak perlu, karena aku tidak akan meminta maaf.” Katanya. Memegang wajahnya untuk menghempaskan rambutnya.

“aaiiisshhh… kau ini benar-benar.” Aku tidak habis pikir padanya.

“kenapa kau melakukan ini?” pertanyaan ini membingungkanku.

“aku melakukan apa? Siapa yang menampar disini? Annyeong?” kataku sambil melambaikan tanganku ke arah wajahnya. Dan baru kusadari matanya memerah.

 

“kau kenapa?” aku malah mengkhawatirkannya. Memerhatikan wajahnya dengan seksama.

“kau yang kenapa?” katanya. Matanya berkaca-kaca. “kau harusnya seperti mereka yang lain. Menjauh dariku? Apa kau pikir aku tidak capek?” dia berbicara dengan keras. Membuatku merinding. Berpikir dia kerasukan atau semacamnya.

“ah..” aku hendak berbicara tapi dia memotongku.

“tidakkah kau merasa? Aku sudah menjauh darimu. Tapi kenapa? Weo?” suaranya mulai serak. Dia sudah menangis sepenuhnya. “aku mau menjauh darimu tapi kenapa kau malah menjadi semakin dekat?”

 

“sungguh aku tidak mengerti maksudmu.” Kataku. Sambil memegangi lengannya.

“jauhi aku seperti semuanya!” dia menatap mataku dalam-dalam. “jangan dekati aku lagi.” Dia menghempaskan tanganku dari lengannya.

“aku tulus. Kau tahu. Aku tidak menginginkan apapun darimu.” Kataku. Tidak tahu akan kemana arah pembicaraan ini.

“kumohon..” katanya lagi. Kali ini suaranya memelan. “jauhi aku.” Katanya lagi. “jangan membuatku menyukaimu.” Kali ini kata-katanya lebih terdengar seperti gumaman.

 

Tanpa pikir panjang aku memeluknya. Membiarkan baju kemejaku basah karena air matanya. “mari kita berteman.” Itulah kata-kataku yang terakhir yang kemudian disambut dengan isakan victoria.

 

 

 

 

*to be continued

 

Advertisements

About 501island

Hi, There! Just visit this fansite^^ fanfiction, news, and others.. let's play around

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s