Nah ini dia fanfic ONESHOT!!! “boleh aku memberi saran?? Akan lebih baik kalau kau membaca fanfic ini sambil mendengarkan lagu Beast ‘Soom’. Gamsahamnida ^^.”

 

 

 

Author: Rahmafi3

Casts: Lee Soomi (co-ed school)

Yong Jun Hyeong (be2st)

Gu Hara (kara)

Genre: sad romance

 

yong jun hyung be2st beast member cute

 

 

*flashback

 

 

Entah darimana datangnya rasa percaya diri ini. Aku sudah memberikannya surat cintaku. Aku menemukan ada harapan. Aku menunggunya pulang sekolah dan memegang tangannya dengan lembut.

Semua orang memerhatikan kami. Tapi aku tidak perduli. Sepertinya dia malu. Tapi aku benar-benar yakin. Yeoja ini adalah soulmateku.

Aku sudah memerhatikannya sejak lama. Dia adalah tipeku. Dan aku akan memilikinya. Tanpa ada satupun yang menggangu kami.

 

“maukah kau menjadi pacarku?” tanyaku padanya sambil berlutut. Dia bolak-balik menatapku dan menatap sekeliling. Malu. Tapi aku tetap meneruskannya.

Semua orang disekitarku memerhatikan kami. Dan akhirnya kami menjadi bahan tontonan. Setidaknya mereka mendukungku. “sudah terima saja” teriak salah satu dari suara mereka yang berisik.

Dia berfikir sambil malu. Wajahnya sudah memerah. Akhirnya dia tersenyum, “ne” jawabnya.

 

Aku tersenyum girang dan melompat. Sambil mengepalkan tanganku. Pertanda kesenanganku. Akhirnya aku menemukan nafasku yang aku idam-idamkan.

 

 

………………………………………………………………………………………………

 

 

 

“oppa!” serunya dari kejauhan.

 

Kami selalu bersama, pergi ke sekolah, cafeteria, dan pulang sekolah. Bahkan salah satu temanku mual melihat kami.

 

“sepertinya kau benar-benar royal pada perempuan.” Katanya, tapi aku hanya tersenyum. Aku benar-benar mencintai nafasku ini.

 

 

“bagaimana kabarmu hari ini.” Tanyaku untuk kesekian kalinya.

“aku baik-baik saja kok.” Dia tersenyum mengetahui kebiasaanku, yang selalu menanyakan kabarnya.

Aku memberhentikan mobilku tepat didepan rumahnya. “annyeongikaseyo” katanya sambil melaimbaikan tangan padaku. Masih di dalam mobil. “jalgayo” kataku sambil mencium keningnya. “sepertinya aku tidak akan bisa bernafas setelah ini.” Kataku. Dan dia hanya membalas dengan senyuman. Dia tahu kalau aku menganggapnya nafasku. Tapi itu memang benar.

Dia turun dari mobilku dan menutup pintu. Aku merasa tercekik. Nafasku pergi.

Aku kemudian menarik nafsa panjang dan mengeluarkannya dengan berat.

 

Dalam perjalanan pulang aku memberinya pesan singkat

 

*kau sedang apa?

 

Sambil menyetir aku bolak balik melihat handphoneku, tapi belum ada balasan.

 

 

*kenapa kau tidak membalas pesanku?

 

 

Kemudian aku mengirimnya kembali

 

 

 

Kemudian beberapa menit baru aku menerima pesan balasan.

 

*hahaha.. dasar tidak sabaran…

Aku hanya mencoba untuk tidur. Tapi kau menggangguku J

 

Aku hanya tersenyum. Aku benar-benar ingin tahu apa yang sedang dia lakukan. Aku bahkan tidak mau berpisah dengannya walau sebentar saja. Kemudian aku mengirim pesan lagi.

*mian.. kalau aku mengganggumu. Tapi aku benar-benar merindukanmu

Kemudian aku mengirimnya kembali.

 

Tidak ada pesan balasan. Sepertinya dia sudah tidur siang. Aku hanya bisa berdiam diri tanpa apapun yang ingin kulakukan.

 

 

………………………………………………………………………………………………

 

lee soomi co-ed school member cute

 

 

Ini sudah tahun kelima kami berpacaran. Bahkan kami kuliah satu universitas walaupun berbeda jurusan.

Aku berdiri menunggu kelasnya selesai. Di taman universitas. Kami bertemu di saat-saat senggang kelas kami. Dan inilah tempat favorit kami. Rumput di taman universitas ini terawat dengan baik. Sehingga kau bisa duduk-duduk diatasnya tanpa menggunakan tikar , karpet atau semacamnya. Kau hanya membutuhkan alas kalau hujan semalamnya.

 

“soomi!!” seruku memanggil namanya.

Tentu saja dia menoleh. Senyum bahagia tampak menghiasi wajahnya. Walaupun sudah selama lima tahun ini kami berpacaran. Tetapi tidak ada rasa bosan didalamnya.

“mian kalau oppa menungguku lama.” Katanya meminta maaf.

“ah tidak apa-apa.” Kataku membiarkannya bernafas. “bagaimana kabarmu?” kebisaanku tidak pernah berubah. Dan seperti biasa dia tersenyum dan kemudian menjawabnya.

“baik,” katanya kemudian melanjutkannya, “kan ada oppa disampingku.” Aku tersenyum malu dan dia juga ikut tersenyum malu.

 

“ayo kita pulang kkaja!” kataku memegang tangannya dengan lembut.

“ne.” jawabnya, dan kami mulai berjalan.

 

 

Seketika pandangan mataku buram, kemudian menghitam.

 

 

 

……………………………………………………………………………………………….

 

 

 

Aku tersadar. Seseorang sedang memegang tanganku. Tapi aku tidak dapat melihat wajahnya. Dia sudah tertidur di sebelahku. Aku melihat ke sekeliling. Jujur saja tidak tahu tempat apa ini. Tapi baunya seperti rumah sakit.

Aku mencoba untuk duduk. Tetapi jarum infuse menahanku. “Aishh..” aku meringis, karena rasanya sakit. Jarum itu tidak sengaja mengoyak kulitku. Ringisanku membangunkan yeoja yang tertidur di sebelahku.

 

“oppa sudah bangun?” Tanya soomi “gwencanayo? Apa masih sakit?” sambungnya lagi.

“ah soomi aku baik-baik saja. Kenapa kau menjagaku?” tanyaku heran.

“oppa aneh mana mungkin aku meninggalkan oppa.” Katanya lagi.

“bagaimana kabarmu?” tanyaku seperti kebiasaanku menanyakan kabar nafasku.

“aishh.. oppa yang sakit kenapa malah menanyakan kabarku.?” Tanyanya kesal, aku tahu kalau dia mengkhawatirkanku.

 

Walaupun aku merasa kepalaku benar-benar berat. Tapi aku memaksakan diri untuk duduk dan berbincang-bincang dengan nafasku. Kemudian dokter datang.

 

“saya ingin memberi laporan. Harus dengan siapa saya berbicara?” tanyanya kemudian. soomi dan aku mengangkat tangan.

Kemudian kami saling bertatapan.

“biar aku saja.” Kataku.

“tidak aku saja.” Kata soomi

“maukah kau membantuku?” tanyaku padanya

“apa yang bisa kubantu?” tanyanya menyodorkan diri.

“maukah kau mengambilkan teh untukku?” tanyaku, sengaja agar membuatnya turun ke lobi.

 

Dan dengan terpaksa dia harus turun ke lobi. Sedangkan aku berbicara dengan dokter.

 

………………………………………………………………………………………………………………………………

 

 

 

Soomi POV

 

 

Aisshhh.. kenapa oppa menyuruhku turun mengambil air??? Padahal aku ingin mendengar laporan dokter langsung. Pikirku dalam hati. Tapi sepertinya tidak apa-apa. Aku rasa dia hanya kelelahan mengurusku. Kekhawatiranku berubah menjadi tawa kecil.

 

Aku merasakan ada getaran di sekitar saku celanaku. Telfon genggamku bergetar. Ada panggilan masuk.

Aku melihat siapa penelfonnya. Ternyata ummaku.

“yeoboseyo?? Eomma??” kataku memastikan.

“Ne.. kau dimana sekarang?? Gwencana?? Sedang apaa?? Bersama siapa?? Tidak biasanya kau pulang selarut ini. Cepatlah pulang seisi rumah mencarimu.” Terdengar kekhawatiran ummaku yang amat sangat. Dan suara bentakan di belakangnya. Mungkin appaku sedang marah karena anak perempuannya belum datang juga.

“mian umma.. mianatha.. aku mengantar teman ke rumah sakit, karena dia tiba-tiba pingsan saat bersamaku di kampus tadi. Aku tidak apa-apa. Aku sudah mau pulang.” Aku harus berbicara panjang lebar untuk meredakan rasa was-was ummaku.

 

Perawat sudah mengambilkan teh untukku. Kemudian aku membawanya naik ke lantai atas langsung menuju kamar rawat jun hyung Oppa.

 

Aku membuka pintu, pelan. Melihat jun hyung Oppa sedang menatap kosong ke depan. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Dokter sudah tidak ada lagi disini. “annyeong haseyo” aku menyadarkannya dari lamunannya yang tidak tentu.

“ah.. kau sudah datang.” Tatapannya langsung berubah, seperti tatapan lembutnya yang biasanya.

“oppa sepertinya aku harus pulang. Mianatha. Ummaku dan seisi rumah sudah mengkhawatirkanku.” Kataku sambil meletakkan teh. Dan melihat raut wajahnya.

“oh ya sudah.. siapa yang mengantarmu?” tanyanya karena yang biasanya mengantarku pulang adalah dia.

“aku bisa naik taksi kok” aku harus membuatnya tidak khawatir terhadapku. Cukup sudah kalau seisi rumah mengkhawatirkanku, tapi bukan jun hyung oppa.

 

 

………………………………………………………………………………………………………………………………

 

 

 

Aku tidak yakin kalau jun hyung oppa akan masuk hari ini. Menjemputku atau berbincang denganku. Karena dia sedang sakit. Aku bisa menerima itu.

 

Tapi. Aku melihat. Di taman kampus kami, dia sedang bersama yeoja. Mungkin ada yang salah dengan penglihatanku. Tidak mungkin itu adalah dia. Aku mendekat beberapa meter untuk memastikan. Dan memang benar itu adalah. Jun hyung oppa. Tapi aku tidak tahu siapa yeoja itu.

 

“o-oppa..” aku makin mendekat dengan mereka berdua. “apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyaku. Mataku berkaca-kaca. Tak sanggup memikirkan apa yang terjadi kemudian.

“oppa jelaskan padaku.” Air mataku mulai menetes. Dia tidak menjawab satupun pertanyaanku.

“kau bilang kau mencintaiku…” pernyataanku lebih terdengar seperti pertanyaan.

“bukankah aku adalah nafasmu?” tanyaku lagi untuk ke sekian kali.

“apa itu benar?” aku masih melemparkan pertanyaan.

 

“ya itu benar.” Katanya sambil berdiri, tetapi wanita itu masih duduk. “tapi itu dulu sekali.” Katanya menyambung pernyataannya tadi.

“jadi oppa. Kenapa kau tiba-tiba melakukan ini? Weo? WEO??” aku nyaris berteriak kencang. Satu per satu mahasiswa mulai menonton kami. Sebagian dari mereka pergi menganggap ini adalah hal yang tidak penting.

Tetapi tetap saja dia tidak menjawab pertanyaanku. “siapa dia OPPA!” aku berteriak sekarang. Menunjuk wanita itu dengan sorot kebencian. Aku tidak bisa menerima semua ini.

“kita putus saja ya.” Katanya seraya membuang wajahnya. Teganya dia.

“oppa.. kenapa kau?” kataku masih tidak percaya. “kenapa kau tiba0tiba seperti ini? Bukankah kau mencintaiku?” kataku lagi.

“sudahlah. Tidak usah dilanjutkan lagi.” Yeoja yang duduk itu bangkit. Dan jun hyung oppa merangkulnya. “aku sudah tidak menginginkanmu lagi. Pergilah.” Katanya sambil membuang wajahnya. Mereka berdua berbalik. Pergi meninggalkan kerumunan.

Aku mulai berlutut. Hanya menangis yang dapat kulakukan. Kenapa dia melakukan ini kepadaku? Apa salahku? Dia bilang aku adalah nafasnya? Hidupnya? Cintanya? Apakah dia sama? Sama seperti pria lainnya? Mereka memilih wanita yang mereka suka dan meninggalkannya begitu saja? Apakah dia orang seperti itu.

 

gu hara kara cute member

 

 

Jun Hyung  POV

 

 

Aku berbalik. Meninggalkan soomi disana. Aku merasa kasihan padanya. Benar-benar kasihan. Pasti ini hal yang terbaik untuknya. Perpisahan seketika. Dia tidak akan menemuiku lagi. Itulah yang kuinginkan.

Hara dan aku masuk ke dalam mobil. “apa kau yakin akan putus dengan yeojachingumu dengan cara itu tadi?” tanyanya.

“tidak-tidak apa-apa.” Hanya itu balasanku yang sekenanya. Gu hara adalah sepupuku. Tapi soomi tidak mengetahuinya. Aku memang tidak pernah memperkenalkan dia pada hara. Tapi hara tahu kalau soomi adalah pacarku.

 

chakapge doraseon dwitmoseube shigani jamshi meomchun deut hae (At the sight of the coldly turned back, it feels like time has stopped for a moment.)

hayake dwaebeorin meoriseoken neol jamaya dwae ani neol bonaeyadwae (In my blank mind, I have to hold onto you, no I have to let you go)

Oh neol itgo saldeon neol itji mothae uldeon na (Oh, I cried because I couldn’t forget you, who forgot herself)

dwil daero dwiraji nado nal jal molla (Whatever will happen, let it happen. Even I’m not too sure.)

.

.

Aku mengingat pembicaraanku dengan dokter semalam.

 

***

 

“bisa saya mulai?” tanya dokter setelah soomi pergi. Sepertinya dia tahu kalau aku tidak mau soomi mendengarnya. Karena aku memang tidak ingin.

“bisa. Anda bisa menyampaikan laporanmu sekarang.” Katanya padaku.

“aku yakin kalau kau sudah tahu penyakitmu.” Katanya

“tidak aku tidak tahu sama  sekali? Apa aku punya penyakit parah?” aku menyiapkan batinku untuk mendengar apapun.

“kau terkena kanker otak.” Dokter berkata dengan wajah prihatin.

Kanker otak katanya??

“kupikir kau mengetahuinya. Karena ini sudah terjadi sangat-sangat lama.” Katanya lagi.

Aku benar-benar tidak bisa menutupi shockku lagi. Aku bahkan membeku. Tapi dokter tetap melanjutkan. “kuharap kau mau tinggal di rumah sakit untuk lebih lama.” Dokter masih memperhatikanku. Melihatku, tidak ada satupun bagian tubuhku yang bergerak.

Tampaknya dia tahu, dan mulai meninggalkanku sendirian dengan shock ku.

 

Aku masih menatap kosong. Bahakan tidak menyadari kalau soomi sudah memasuki kamar rawatku. Dia melambaikan tangannya. Aku masih tidak bergeming. Kemudian dia menyapaku. “annyeong haseyo.” Katanya.

Kami berbincang sedikit. Dan setelah pulang aku langsung memikirkan bagaimana caranya agar dia tidak berada di dekatku lagi. Dan perpisahan seketika terlintas dalam benakku.

 

***

 

Aku sudah melepaskan nafasku. Kemudian mulai seperti orang asma. Nafasku mulai tidak beraturan. “apa kau tidak apa-apa?” tanya gu hara yang masih di sebelahku. “aku tidak apa-apa.” Kataku. Masih sesak. “bawa aku ke rumah sakit sekarang.” Kataku karena merasa mau pingsan. Kemudian kubiarkan hara mengendarai mobilnya.

 

 

 

………………………………………………………………………………………………

 

 

Gu Hara POV

 

Sudah seminggu setelah jun hyung memutuskan hubungannya dengan yeojachingunya. Dan dia belum sadar juga.

Dia seperti sesak nafas saat berada di mobil bersamaku. Aku menyetir untuknya ke rumah sakit.

Dalam seminggu ini aku sudah menungguinya disini. Dia koma. Tidak ada pergerakan apapun. Seakan nyawanya sudah diambil. Atau sebagian dari dirinya hilang. Aku tidak tahu.

 

 

“apa kau saudaranya?” dokter keluar dari kamar jun hyung.

“ne. Bagaimana dia?” aku mencemaskannya.

“dia tidak baik.” Aku sudah menyadarinya. “sepertinya dia harus melakukan operasi. Kanker yang ada di otaknya sudah sangat buruk. Kami harus mengeluarkannya. Tapi kami butuh persetujuan keluarganya.”

“dimana aku harus tanda tangan.” Aku menyetujuinya.

“tapi seperti operasi lainnya hanya ada dua pilihan.” Kata dokter kepadaku.

“mworagoyo?” aku ingin tahu.

“dia bisa selamat. Tetapi juga bisa sebaliknya.” Hal itu tidak bisa disangkal oleh siapapun.

 

 

 

***

 

Operasi sedang dimulai. Kata dokter paling tidak memakan waktu lima jam. Mereka harus menolongnya. Jika tidak mungkin dia akan mati.

 

 

Aku teringat lagi hari itu. Seharusnya aku tahu dari awal. Jun hyung mencintai yeoja waktu itu. Aku bahkan melihat seberapa sakitnya dia saat memutuskan hubungannya dengan yeoja itu.

Dengan cepat aku keluar dari rumah sakit. Dan pergi ke kampus jun hyung untuk menemui yeoja itu.

 

 

 

 

 

Soomi POV

 

 

Aku masuk kuliah seperti mayat hidup. Aku bahkan tidak mendengar pernyataan dan pertanyaan seonsaengnim padaku. Bahkan tidak ada yang mengajakku bicara. Mungkin mereka semua tidak ingin menggangguku.

Keluar dari kelas dengan wajah lesu. Kepalaku berat sekali. Aku tidak ingat kalau aku sudah makan atau belum. Aku hanya berniat pulang dan langsung tidur atau meratap. Sudah seminggu ini aku tidak bisa tidur.

 

“ya!” seseorang menarik tanganku. Aku seperti sudah melihatnya di suatu tempat.

“kau pacar baru jun hyung kan?” aku teringat. Dia dalah yeoja yang sama. “mau apa?” aku bertanya lagi.

“kumohon kau harus ikut denganku.” Katanya. “aku akan menjelaskannya di jalan.” Kemudian aku naik ke mobilnya.

 

 

*****

 

 

“benarkah begitu?” tak terasa air mataku yang sudah kering keluar lagi untuk kesekian kalinya. Hara sudah menceritakan semuanya. Jun hyung berbohong padaku. Dia menyembunyikan semuanya dariku.

“tapi kenapa dia tidak mau bilang?” aku masih tidak percaya.

 

 

Kami sudah tiba di rumah sakit. Kemudian aku berlari keluar dari mobil hara dan langsung berlari ke arah rumah sakit. Hara menunjukkan jalannya.

“pelan-pelanlah wajahmu pucat sekali.” Hara menegurku karena aku terjatuh. Dan bodohnya kenapa aku tidak bisa berdiri. ‘dasar kaki babo!!!” pikirku dalam hati. Kenapa disaat sepenting ini kau tidak bisa bergerak?

 

 

 

Kulihat dokter keluar dari ruang operasi. Tak kusangka operasinya lebih cepat.

Hara membantuku untuk berdiri. “dokter.” Kataku dari jauh. Tapi sepertinya dia melihatku.

“apakah operasinya sudah selesai?” tanya hara pada dokter.

“ye.. sudah.” Dokter memasang wajah datar. Aku tidak bisa membaca wajahnya.

“bagaimana?” aku bertanya. Aku tidak punya ide apapun. Imajinasiku buntu.

Dokter tidak menjawab.

“BAGAIMANA!” aku berteriak sambil menangis. Karena tidak ada jawaban apapun yang ku dapatkan. Dokter sedikit menunduk.

“maafkan kami. Kami berusaha semampu kami.” Dokter mengatakannya. Dan disambut oleh semua dokter yang lain. Mereka keluar dari ruang operasi.

 

Aku mencoba lari. Melepaskan peganganku dari hara. Tapi kakiku masih tidak menurut. Dan membuatku merangkak masuk ke dalam ruang operasi.

 

 

****

 

 

Dia ada disana. Terbaring kaku. Banyak benda-benda di atas tubuhnya. Yang aku tahu itu pasti alat bantu hidup. Dan mereka akan melepaskannya. Karena dia sudah pergi. Aku berada tepat disampingnya. Air mataku deras  sekali. Tapi aku tidak bersuara sekali.

“oppa bangunlah aku datang.” Kataku. Menatapnya. Tapi pandangan mataku kabur karena air mata yang brengsek ini.

“OPPA!!” aku mengguncang tubuhnya. Tidak ada apapun yang terjadi. Aku merasa tubuhku sangat lemas. Kemudian menutup mataku berharap ikut mati. Tapi sepertinya aku hanya pingsan karena mereka mengangkatku ke ruang pasien lainnya.

 

 

“oppa mianhata..” aku menangis dalam mimpiku. Aku bahkan tidak bisa melakukan apapun dengan benar.

 

 

 

 

 

~The End

 

Advertisements

About 501island

Hi, There! Just visit this fansite^^ fanfiction, news, and others.. let's play around

3 responses »

  1. sepiiii…. gak da yg komen 😦

  2. Kwon_BoA_Yuri says:

    beuh…
    sedihnya….
    trakhirnya … huhuhu…
    junghyunnya kehilangan nafasnya…
    tapi pas nafasnya udh dateng… dianya pergi…
    huhuhuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s