Author: Rahmafi3

Casts: Park Jungmin (ss501)

Kim Kira

Park Rinrin

Main cast: Heo Young Saeng (ss501)

Length: Oneshot

Genre: sad romance

~hohoho mian buat para readers.. sebenernya ini FF dah lamaaaa banget. tapi entah knapa pingin ngepost yang ini. dengan main cast saengi!!! hehehe.. baca sambil dengerin lagu ‘It’s Love… ^^

*WARNING: BUAT SILENT READERS AND PLAGIATORS GO AWAY!! komenlah.. 3 kata aja udah nyenengin author loh^^

***

Park  Jung Min POV

parkjung min ss501 handsome cute sexy

Sudah sebulan semenjak sepeninggal nenek kami, Rin rin menjadi pemurung. Ia selalu termenung sendirian. Padahal dulu ia anak yang ceria. Aku sering bertengkar dengannya. Tapi sekarang, sebentar-sebentar ia menangis kemudian diam sebentar, dan hal itu janggal sekali. Sesedikit mungkin dia tidak mau berbicara pada siapapun. Young Saeng hyung orang yang paling dekat dengannya saja tidak tahu harus berbuat apa. Aku pusing. Yeodongsaengku yang malang.

Kim Ki Ra POV

Dua hari setelah Rin rin masuk, ia jarang menggila seperti biasa. Pelajaran sudah dimulai. Jun ri duduk di sebelah Rin rin yang diam, aku duduk di depan mereka. Kami tidak terlalu mendengarkan pelajaran. Sungguh. Mian, aku berbohong. Kami mendengarkan pelajaran. Kulihat Rin rin melihat keluar jendela. Entah sampai mana pikirannya membawanya pergi. Matanya menerawang. Tapi sebentar. Matanya basah. Apa dia menangis? Dengan cepat aku melihat kearah Junri. Junri mengetahuinya tidak ya? Aku panik sekarang. ”Gwencanayo?”, kataku khawatir padanya tapi tidak tahu harus berbuat apa. Aku yakin Junri juga diam saja karena tidak tahu harus berbuat apa. Dia mirip sekali seperti Oppanya Jun.

Heo Young Saeng POV

ss501 heo young saeng members sexy

Sangat menyedihkan… Kenapa Rin Rin diam saja? Aku jadi takut. Aku menjemputnya hari ini, tapi aku seperti menjemput mayat hidup. ”rinrin?” tanyaku meminta perhatian, tapi tampaknya dia tidak memerhatikanku sama sekali.

Sudah sampai dirumahnya, aku membukakan pintu, dia turun kali ini dia tidak mengatakan apa-apa, gamsahamnida saja tidak, dasar. ”youngsaeng-ah!” teriak jungmin dari dalam rumah. ”mwoerago?” dia membuatku terkejut. ”ada yang mau aku bicarakan”

Hari minggu ya? Hmm… baru kali ini jungmin minta bantuan dengan sungguh-sungguh. Aku memikirkannya. Permintaan jungmin. Mungkin tidak apa-apa kalau kulakukan. ”rinrin”, aku menjemput rinrin lagi hari ini. Aku mengajaknya makan siang. Dia tidak berkata apa-apa, dia hanya menatapku. Seperti menyanyakan apa yang kuinginkan. Karena dia memberiku perhatian, dengan cepat kulanjutkan perkataanku, ”hmm.., hari minggu mau pergi tidak”, tampaknya dia tidak tertarik, ia membuang muka. Aku menyambung perkataanku lagi agar dia tertarik ”pergi tamasya, mau tidak?” aku menyondongkan tubuhku lebih dekat. Dia mengangkat wajahnya, berpikir. Ia tersenyum?! Baru kali ini dia tersenyum setelah sekian lama. Aku juga tersenyum, tahu itu tandanya iya.

Tibalah hari minggu yang kutunggu.

”rinrin kau mau itu?”, kataku menunjuk cotton candy. Sekarang kami berada di taman hiburan, aku berencana mengajaknya berkeliling. ”youngsaeng oppa.”kata rinrin seperti ingin menyadarkanku dari sesuatu, ”oppa akukan sudah beli dari tadi” katanya sambil tertawa. Eotteokhae, aku lupa.

Kami menaiki roller coaster, masuk ke rumah hantu, makan dan lain-lain. Sepertinya rinrin sudah mulai ceria lagi, aku senang. Aku sempat awkward saat awalnya. Tapi sekarang sudah tidak lagi. ”oppa, setelah ini oppa mau apa?” katanya saat kami duduk di taman. ”kau mau apa?”, tanyaku kembali. ”sekarang sudah petang, apa kau mau melihat pemandangan matahari tenggelam dari kereta api dalam perjalanan pulang?”, tanyaku padanya. ”boleh juga.” ia tersenyum lagi.

Kami masuk dalam kereta  sedikit berbincang-bincang.. ”oppa, jungmin oppa yang menyuruh oppa, ya?” katanya sepert tidak perduli sambil minum. ”iya, tapi aku juga suka kok.” kataku, dan berhasil. Dia tersenyum. ”apa youngsaeng oppa sedih kalau kehilangan orang yang oppa cintai?”, tanyanya, membuaku bingung harus menjawab apa. ”mungkin aku belum merasakannya.” aku berusaha membuatnya tidak sakit hati. ”lihat mataharinya sudah mulai terbenam!” mengalihkan perhatian, karena suasananya jadi sangat serius. Ia menoleh keluar, ”tidak ah, belum.” ahh, aku menghembuskan nafas lega, akhirnya perhatiannya teralih. ”oppa, kalau aku mati siapa yang akan menangis untukku ya?” katanya menerawang. Entah mengapa tapi kalimat itu cukup menusuk. ”nah, sekarang mataharinya sudah mulai terbenam, kali ini aku tidak bohong!” aku menunjuk keluar. Dia menoleh keluar lagi, ”iya, kali ini oppa tidak salah.” katanya datar.

Kira-kira perjalanan dari sini ke rumah 3 jam, kapan harus berakhir agar dia tidak bertanya yang aneh-aneh. Aku harus selalu mengalihkan perhatiannya. Kami berada di kereta api yang bertepatan lorong satu ini kosong. Hanya ada kami berdua disini.

Aku melamun. Kami berdua diam, tidak tahu harus bicara apa. Tapi tiba-tiba rinrin mengagetkanku. Dia membuka jendela kereta. ”apa yang kau lakukan?” kataku menatapnya tidak percaya. Tapi dia hanya tersenyum dan langsung duduk di jendela kereta, angin berhembus sangat kencang. ”rinrin cepat turun, kau tidak boleh duduk disitu.” kataku khawatir sekaligus panik, eotteokhae??????

”oppa.” dia menatapku. ”tahukah oppa, kalau perpisahan itu sangat menyakitkan.” katanya, matanya sudah berkaca-kaca. ”gamsahamnida untuk hari ini saengi oppa.” ia tersenyum lagi, ”mian, tapi aku harus pergi.” ia menangis. Dia melihat keluar, kereta mendekati jembatan. Saat kereta berada di atas jembatan, dia menjatuhkan dirinya. Rinrin?! Serempak aku langsung mendekati jendela kereta, melihat rinrin jatuh ke bawah. ”RINRIIN!!” teriakku, dasar babo kenapa aku tidak menangkapnya. Apa yang dia lakukan dasar babo! ”rinrin” tanpa tersadar aku menangis mendengar isakan tangisku. Tak ada yang bisa kulakukan. Aku terduduk lemas.  Menangis.  Apa maksudnya? Menciptakan sebuah perpisahan untukku?membuatku merasakannya? Siapa yang tidak sedih kalau kehilangan orang yang kusukai pergi? Dan sulit untuk menyusulnya? Aku sedih sekali, air mataku terus mengalir, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku bisa gila. Air mataku tidak mau berhenti, dan aku tidak sanggup untuk menghentikan mereka.

Sedih kehilangan orang yang kusukai. ”Rinrin apa yang kau lakukan?” kataku masih menyesali apa yang terjadi. Betapa babonya aku membiarkannya jatuh. Eotteokhae? Eotteokhae? Eotteokhae? EOTTEOKHAE??? Apa aku juga harus menyebutnya berkali-kali. Tidak ada yang bisa dilakukan, semuanya sudah terlambat.

Aku hanya bisa menangisinya, hari sudah malam, tinggal beberapa menit lagi aku sudah sampai ke rumah. Pergi dengannya, tapi pulang tanpanya. Aku menangis lagi. Apa yang harus kukatakan pada jungmin? Aku berpikir keras, tapi tidak ada satupun ide yang muncul. Aku terus terisak. My lovely heart gone.

Dia tidak akan pernah kembali lagi. My lovely heart gone.

Memikirkan hal itu, aku menangis lagi.

*the end

Advertisements

About 501island

Hi, There! Just visit this fansite^^ fanfiction, news, and others.. let's play around

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s