hohoho.. admin comeback again^^ hiks.. nilai mid saya jeblok 2 pel.. (maap curcol). Back to FF: ni dia ff tentang leader yg bakalan bikin pusing. Author mengangkatnya dari mimpi temen author, hahaha. yg jelas utk membedakan: ketika ada HyunJoong (artinya itu leader), nah kalau tulisannya begini hyunjoong (artinya itu anjing). kagak ngerti ya reader?? baca dulu ya baru pasti tahu maksud saya memberitahukan ini. kekeke..

Title: HyunJoong is Kim Hyun Joong

Author: 501island

Genre: Romance

Rating: General

Length: Oneshot

Casts: U (main cast. Bayangkanlah kau sebagai main cast!)

Kim Hyun Joong (ss501)

Park Rin Rin

 

Prolog~

Seorang mahasiswa, dengan kehidupannya yang membosankan. Tinggal di kawasan yang sepi. Mengagumi boyband bernama SS501, biasnya adalah Kim Hyun Joong *sang leader*. Kedua orang tuanya sering berpergian, yeoja ini sering ditinggal sendirian dirumah. Di tengah-tengah kehidupannya yang membosankan. Dia bermimpi… dan keajaibanpun terjadi.

 

 

…….OOO^^OOO….

 

Tak kusangka aku terlelap di hari yang sepanas ini. Summer.. siapa yang suka summer?? Hari yang cukup panas untuk semua orang. Aku memegang sebuah buku pelajaran di tanganku. Bahkan aku tidak tahu buku ini sudah kubaca atau belum.

Aku sedang berada di padang rumput yang beberapa meter jaraknya dari rumahku. Di bawah pohon yang besar, satu-satunya pohon disini. Selebihnya bunga-bunga yang indah. Ini adalah sudut yang paling baik saat kau datang ke padang rumput ini, kau dapat melihat bunga mengelilingi air mancur di ujung sana, tempat mandian burung-burung merpati yang hilir mudik, ayunan, dan pondok-pondok.

Tapi sekarang mataku terpaku pada sebuah sosok. Berjalan kearahku, atau menurutku begitu T.T, sosok itu bersinar, cahaya matahari seakan terpantul dari tubuhnya.. rambutnya bergoyang dihembus angin, seakan-akan memang elemen bumi menyambut setiap kedatangannya. Ia memakai kaus oblong, dan celana pendek selutut, pakaian yang kau temukan biasa saja, semua orang pernah memakainya, tapi dia tidak. Berbeda. Kau tak pernah membayangkan orang setampan ini berada di depanmu. Model? Tidak. Itu bukan defenisi yang tepat untuknya. Aku yakin dia lebih daripada itu.

Akhirnya, seseorang bak malaikat ini berdiri satu meter jauhnya dariku. Ingin sekali aku mengatakan satu meter ini dekat, tapi sepertinya terlalu jauh.. rupanya membuatku tak dapat bergerak. Tikus yang siap dimakan ular.

Aku masih terpaku pada wajahnya, mataku tidak mau dialihkan ke tempat lain. Bahkan tubuhku tidak mau bergerak satu sentipun. Bibirnya tertarik ke atas membuat sebuah senyuman. Ia menatapku lekat. Itu adalah hal terakhir yang ku ingat, dan akupun terbangun.

……….OOO^^OOO…………

Yeobeosseoyo?? (hallo) ” tidak ada suara yang menjawabku. Akupun mengulanginya lagi “Yeobeosseoyo??”

ne ..(ya)”

“park rin rin-ahhhh!!!” teriakku sebisa mungkin.

“kenapa kau menelponku sepagi ini??” aku tahu dia masih mengantuk.. jadi kuserobot saja sekalian.

“aku bermimpi tentang dia!! KIM HYUN JOONG!! SS501!!!!” aku sangat yakin kamarku kedap suara.

“hmmm…”

“kau mendengarku tidak??”

“hmm…”

Walaupun aku sangat yakin dia tidak mendengarku. Tapi tetap saja aku menceritakan mimpiku sedetil-detilnya. Mungkin dia hanya memberi komentar sedikit entah itu mengigau atau apa saja terserahlah.. aku sedang senang.

TOK! TOK! TOK! *seseorang mengetuk pintuku dari luar. Aku mengabaikannya sebentar untuk melanjutkan finishing mimpiku yang indah.

TOOKK!! TOOKK!! TTTOOOOKKKKKKK!!!!! *haaahhh.. aku memutar bola mataku. Orang diluar sana tidak punya kesabaran sama sekali.

“ya sudah rinrin-ah. Nanti aku akan menelponmu lagi. Lanjutkan tidurmu. Mimpikanlah saengi! Kkkk.” Tambahku dengan tawa geli. Kemudian aku meluncur dari tempat tidurku dan membukakan pintu.

Eomma.

mwo eommoni?? (ada apa bu?)” aku sedikit terkejut melihat ibukulah yang ada di depan pintu kamarku.

“lihat apa yang kami belikan untukmu! Kau pasti suka!” ibuku masih menyunggingkan senyumnya. Dan langsung menarikku turun ke lantai dasar rumah.

Appa, ayahku memegang sebuah kotak kuperkirakan besarnya.. 30×40?? Tidak terlalu kecil 50×60?? Mungkin.. semakin aku mendekat tampaknya kotak itu semakin besar saja.

“Ttttaaadaaa!!!” ayah dan ibuku dengan kompak berteriak. Jujur saja aku senang diberi hadiah.. tapi biasanya hadiah yang diberikan oleh kedua orang tuaku ini tidak pernah masuk akal. Terakhir kali mereka memberikanku bola kristal. Tentu saja itu bukan sungguhan.. kau harus menyambungkan kabel-kabel yang belum terpasang satu sama lain, kemudian menghubungkannya pada sumber listrik.

Dengan enggan aku melangkah membuka hadiah itu, tapi tetap menyunggingkan senyumanku.. benda aneh apapun didalam. Aku tidak akan mengecewakan mereka untuk tidak tersenyum.

Aku menyentak kartonnya yang tebal, dan sesuatu dengan cepat berlari keluar dari sana dan terpojok di pintu. Mataku mengerjap-ngerjap tidak percaya. Senyumku merekah lebih besar lagi. Mereka memberikanku seekor anjing!!!

“kami tahu kau sering kesepian saat kami tidak dirumah. Kami sangat sedih saat melihatmu bermain dengan PC atau HP mu. Sekarang kau boleh bermain dengannya.”

Aku menunduk menjulurkan tanganku kepada si kecil ini. Lambat laun dia mulai mendekat padaku. Bulunya sedikit tebal berwarna hitam. Matanya juga hitam pekat.  Tapi entah apa pada dirinya yang membuatku ingat pada seseorang.

“aku akan memberikan namanya Hyun Joong. Kim Hyun Joong.” Aku sangat ingin memberikannya nama itu. Tapi aku langsung menambahkan “kalau boleh?” untuk kesan lebih sopan pada kedua orang tuaku. Mereka mengangguk setuju, dengan dasar, anjing ini milikku sekarang.

Saat ibuku memberi makan hyun joong, aku melesat ke lantai atas untuk mandi dan bersih-bersih. Kemudian mengajak hyun joong jalan-jalan.

…….OOO^^OOO……

“hyun joong kenalkan aku adalah fans beratmu!! Bukan hanya sekilo.. itu tidak mendefinisakan aku!” kataku pada hyunjoong yang sedang celingak-celinguk melihat wilayah baru yang belum pernah dilihatnya. Membuatku tertawa. Tampaknya aku sudah mulai gila, berbicara kepada anjing.

Aku sudah siap memasang headphone di telingaku dan sudah kuhubungkan ke MP3 playerku yang langsung memutar ‘Love Ya’ SS501 disusul ‘Break Down’ Kim Hyun Joong.

‘hahh.. andai kau bisa bernyanyi seperti ini juga hyunjoong.’ Kataku dalam hati pada anjing yang kusayangi ini.

Tampaknya hyun joong sangat bersemangat sekali hari ini. Bahkan padang rumput ini tampaknya tidak cukup untuk dirinya. Aku sudah lelah berlari mengikutinya.

“hahaha..” setelah menegak air mineral aku tertawa pada hyunjoong. Kemudian menggendongnya untuk minum juga. Mendudukkannya dikursi sebelahku. Pertama-tama hyunjoong menjulurkan lidahnya. Menghirup oksigen yang lebih banyak lagi, mengatur nafasnya, kemudian minum. Dia menggonggong ke arah semak dan melompat dari kursi. Membuat air minumnya tumpah. “hyunjoong-ah!” seruku padanya. Tali lehernya tersangkut di semak, dengan pintar ia menyentak tali leher dan langsung masuk menerobos semak tak berujung.

“Hyun joong-aahhhhh!” aku memungut tali lehernya dan mengintip ke semak. “Hyunjoong-ah!” lama kelamaan aku memasukkan kepalaku sebentar-sebentar dan mengeluarkannya lagi hanya untuk mengambil nafas dan berteriak lagi “Hyun joong-ah!” aku melakukannya berulang-ulang.

Aku bahkan tidak menyadari seseorang menyentuh bahuku untuk memanggilku dari belakang.

Untuk kesekian kalinya aku mengambil nafas dan mulai berteriak lagi. “Hyunjoong-ah!” panggilan dibahuku mengusikku. Aku menoleh kebelakang. *melihat seseorang* begitu terkejutnya sampai terjerembap ke tengah semak.

HyunJoong menjulurkan tangannya ke arahku untuk membantuku berdiri. Aku yakin rupaku sangat-sangat tidak baik saat itu. Aku sudah menyurukkan kepalaku ke dalam semak berkali-kali dan terjerembap di semak yang sama dan HyunJoong ada di depanku sedang menjulurkan tangannya! Bahkan jarak kami kurang dari satu meter!

Tidak ingin membuatnya menunggu lama aku meraih tangannya, walaupun ia sedang tersenyum geli melihat rupaku sekarang, aku hanya bisa menutup mulutku dengan tangan yang satunya, aku harus menutup mulutku keras-keras untuk menahan teriakan, alih-alih takut melihatnya lari karena teriakanku yang bodoh.

“ada apa kau memanggilku?” HyunJoong tampaknya sudah pulih dari tawa gelinya, walaupun ia masih menyunggingkan senyumnya. Senyumnya yang asli bahkan lebih baik dari mimpiku!

Aku yakin terdiam cukup lama. Tapi dia dengan sabar menunggu jawabanku. “sejujurnya aku mencari anjingku.” Aku tertunduk. Malu.

“anjing?”

Aku menjawabnya dengan satu anggukan.

“itu meleceh namanya.” Katanya dengan tawa. “jadi apakah si ‘hyunjoong’ itu terjerumus kedalam semak atau semacamnya?” tanyanya ramah. Akumengangguk lagi, dan tampaknya ia senang dengan tebakannya yang benar. “ayo kita cari sama-sama” tawarnya.

Kami memutari padang rumput. Tapi tidak ada hyunjoong disana, *malah ada yang asli disini bersamaku :p*

“HYUNJOONG-AAHH!!!” teriakku.

“sejujurnya agak aneh.. seseorang meneriakkan namaku dengan keras padahal aku berada tepat disampingnya.” HyunJoong menggeleng-geleng tidak percaya. “bisakah kau memanggilnya dengan lebih sopan?”

“ehhh..” aku memeras otak “hyunjoong-ssi?” tanyaku pada leader ss501 ini J

“begitu jauh lebih baik^^” ujarnya. Kemudian kami mulai berteriak lagi dan lagi.

………OOO^^OOO…….

“apakah hyunjoong berwarna hitam?” tanya HyunJoong padaku. Aku menatapnya kemudian mengikuti arah pandangannya kearah hyunjoongku. Dia sedang tergolek lemas diatas pasir seperti anjing yang tidak mempunyai tuan. Badannya kotor sekali.

“HYUNJOONG-AHH!!!” hyunjoong menoleh ke arahku dan berlari secepat kilat melompat ke arahku. Walaupun tadi terlihat lemas sekarang dia mulai menjulurkan lidahnya seperti tadi pagi. Karena sekarang sudah siang.

“jadi bagaimana harimu hyunjoong kecil?” HyunJoong asli mengelus-elus kepala hyunjoong, dan tampaknya dia menyukainya.

“baiklah sepertinya ini saat yang tepat. Mari kuperkenalkan. HyunJoong kenalkan ini hyunjoong. Hyunjoong kenalkan ini HyunJoong.” Walaupun aku terlihat bodoh aku tetap melanjutkannya. Hyunjoong sedikit terkekeh mendengar namanya disebut empat kali.

Otomatis aku memasangkan tali leher hyunjoong untuk membawanya pulang. “tampaknya itu tidak dapat digunakan lagi.” HyunJoong menunjuk tali leher anjingku yang telah disentaknya di semak tadi. “kemari!” HyunJoong menarik tanganku. Ternyata bukan aku saja yang kaget, hyunjoong juga kaget.

Kami sampai ke sebuah toko hewan peliharaan. Dan HyunJoong nyaris menunjuk semua barang untuk anjing, tanpa sadar hyunjoong sudah tidak digendonganku lagi. HyunJoong memegang tangan anjingku dan kemudian mereka berdua sama-sama menunjuk. *Seperti ayah anjing dan anaknya.. aku tidak yakin akan menjadi peran ibu kalau berubah menjadi anjing @.@*

Setelah berada disana berjam-jam akhirnya kami keluar dengan sebuah tali leher untuk hyunjoong *mereka terlalu banyak bermain didalam sana, mungkin karyawan disana akan marah, tapi langsung terdiam setiap kali ingin menegur HyunJoong, terhenti karena ketampanannya*. Tali leher yang elegan berwarna hitam. Yang akan menyatu dengan warna bulu hyunjoong, tapi juga dapat bersinar saat dibubuhi sinar mentari. *yang membuatku senang adalah ‘bukan aku yang membayar tagihannya^^’ karena aku yakin itu sangat mahal*

Hyunjoong sudah kembali ke tanganku, ia berjalan beriringan dengan kami berdua. Sudah lama kami terdiam. HyunJoong dan aku sama-sama diam.

“jadi dimana rumahmu?” ooohhh ternyata ini yang dia pikirkan.

“hmm.. sebentar lagi belok kiri.” Kemudian kami diam lagi, sampai dirumahku.

“Kamsahamnida” aku berterima kasih karena dia sudah mengantarkan kami ke rumah. HyunJoong membalas dengan senyumannya. Aku bahkan tidak dapat menyesuaikan diri pada senyumnya.

“setelah ini kau akan melakukan apa?”

“hmm..” aku mencari-cari jawaban di otakku. Melihat hyunjoong kecil “mungkin memandikan hyunjoong? Dia sudah kotor sekali.”

“kau akan memandikan aku?” HyunJoong mengangkat alisnya, aku tahu dia sebenarnya tahu apa yang kumaksud tapi dia tetap saja menjadikan kalimatku sebagai barang candaan. Kemudian ia berubah menjadi hati-hati “bolehkah aku ikut?”

Aku langsung menyambar kesempatan besar ini, mungkin ini satu-satunya kesempatan yang kupunya. Aku mengangguk, terlalu cepat. HyunJoong tertawa lagi.

Seperti sudah terbiasa kerja di PetShop HyunJoong membantuku mengambil shampoo, handuk, ember, dan lain-lain dan mengangkutnya ke teras depan rumahku. Mengangkut hyunjoong ke dalam ember kemudian menghidupkan air selang. Hyunjoong menggonggong  kemudian menjulurkan lidahnya girang. HyunJoong tertawa-tawa sambil bermain air dengan hyunjoong alih-alih menyiramkan air juga kearahku, kemudian aku membalasnya dengan menyipratkan air busa hyunjoong ke arah HyunJoong.

Perpisahan. Mungkin aku dapat menghentikian jam dirumahku. Tapi aku tidak dapat menghentikan matahari dan jam di seluruh dunia. HyunJoong harus pulang. Bahkan aku saja tidak tahu apa aku akan dapat bertemu dengannya suatu hari nanti.

Sebulan kemudian…

“Wuaahhh!! Lihat!” tunjukku ke arah TV. Aku dan rin-rin sedang menonton goodbye stage Kim Hyun Joong. Dia memenangkan beberapa trofi di Mnet! Countdown dan yang membuat kami senang, saengi muncul di beberapa kesempatan bersama HyunJoong. “Cool!!! KYAAA!!” aku berteriak tak henti-henti, bahkan temanku tidak melepaskan senyumnya semenjak satu jam yang lalu.

“haahh.. kenapa kau tidak memanggilkan Saengi saat kau bersama leader” ucapnya sesekali. Dan aku hanya membalasnya berulang-ulang juga ‘tentu saja, siapa yang akan dapat berpikir jernih saat berhadap muka dengan HyunJoong??’

Pertunjukan sudah usai. Aku sendirian lagi setelah rinrin pulang kerumahnya. Sudah berlalu, sebulan lamanya. Aku mengulang aktivitasku, memandikan, memberi makan, mengajak hyunjoong jalan-jalan. Tapi yang kuharapkan tidak datang juga. Aku mengharapkan HyunJoong datang lagi. Terserah aku sedang lusuh atau dalam keadaan jelek apapun. Aku tidak perduli. Bahkan orang-orang disekitarku sudah terbiasa melihatku celingak-celinguk setiap melangkahkan kakiku keluar dari rumahku.

Dia tidak datang. Ujuarku dalam hati. Dan itu benar. Aku menyembunyikan wajahku dari semua orang. Hanya hyunjoong ini yang melihat setiap kali aku menangis sendirian di dalam kamar. Bahkan orang tuaku tidak ada di rumah. Dia tidak akan datang.

Aku memembenamkan wajahku di bawah bantal dan berteriak. Kemudian mulai menangis tersedu-sedu.

Tuhan telah memberiku sebuah mimpi yang sangat indah, sebuah hari yang indah. Itu telah membuatku cukup gila untuk melupakannya. Rutinitasku bahkan tidak ada yang dapat menarik minatku lagi. Tidak peduli berapa kali aku mencoba. Aku tidak akan dapat bertemu dengan HyunJoong lagi. Ia memang tak tersentuh. Kau tidak dapat masuk ke backstage. Tidak kerumahnya, kau hanya akan menjadi penggemar yang menyebalkan, dan aku tidak mau menjadi seperti itu.

Aku membuka Pcku. Memutar MV Break Down berkali-kali. Tidak tahu apa yang  isa membuatku berhenti. Aku melanjutkan sambil membuka X-Concert SS501. Dan mulai terisak lagi.

Ibuku menelfon berkali-kali. Aku bahkan tidak dapat mendengar suara dering telepon rumah dan Hpku. Aku mencampakkan Hpku di suatu tempat kamarku. Aku terpikir untuk bunuh diri tapi terlalu takut untuk melakukannya =.=

Kompleks ini terlalu sepi. Bahkan deru mesinpun tidak ada. Suaramu akan bergema setiap patah yang kau katakan. Sepi sekali. Dan membosankan. Tidak ada yang dapat diajak bicara. Aku sudah mencoba berbicara dengan hyunjoong.. dan ia hanya dapat membalasku dengan tatapan matanya yang bulat, senggolan, dan mulai menjilat. I’m going crazy!!!

Berdiri dan aku mencampakkan badanku ke tempat tidur. Menyuarakan suara berdebum pelan. Tapi tetap membuat kayu-kayu bergetar. Kalau begini aku mau mati saja! Pikirku dalam hati.

Entah apa yang membuatku teringat dengan kisah Cinderella. Pertemuannya yang singkat dengan sang pangeran. Kemudian sang pangeran dengan gigih mencari kembali sang pujaan hati Cinderella. Kisah yang sangat mengharukan dengan akhir yang bahagia. Tapi pernahkah orang-orang terpikir? Bagaimana jika pangeran tidak kunjung kembali menemukan Cinderella? Bagaimana jika pangeran hanya menganggap Cinderella sambil lalu dan langsung melupakan Cinderella setelah hari yang membahagiakan buat Cinderella? Dan bagaimana jika pangeran merasa hari itu tidak bahagia? Ia hanya menganggap itu hanya satu hari dalam satu tahun sama seperti biasanya? Mungkin ia dapat menemukan seseorang yang lebih baik dari Cinderella. Dan menikah dengan orang lain.

Aku memikirkan segala kemungkinan yang ada. Dan aku tahu kenapa cerita yang menyedihkan tidak pernah masuk ke dalam dongeng anak-anak. Tidak akan ada yang pernah mau membaca kisah Cinderella yang malang. Bukunya tidak akan terjual di bagian dunia manapun. Tidak akan ada yang mau membeli.

“hyunjoong-ah kkaja!(ayo)” aku mengajak hyunjoong keluar dari rumah. Setidaknya sekarang aku tidak perlu repot-repot memasangkan tali leher pada hyunjoong. Tampaknya dia selalu tahu bagaimana suasana hatiku yang bercampur aduk. Dia hanya mengitariku sambil berlari-lari kecil. Tidak pernah meninggalkanku. “bahkan tidak ada orang yang lewat” ujarku pada hyunjoong dan terduduk lemas di trotoar. Dan hyunjoong ikut duduk disampingku.

Walaupun dengan suasana bermuram durja, aku tetap mengelus-elus hyunjoong. Dia menggoyang-goyangkan ekornya kesana kemari dan berlari ke tengah jalan besar.

“hyunjoong-ah. Sini!” pintaku. Melebarkan tanganku siap memeluknya. Kemudian sebuah mobil berwarna merah melaju dengan kecepatan kilat.

Andwae!!!(jangan)” teriakku dan langsung berlari tepat diantara mobil dan hyunjoong.

Aku mengerjapkan mata. Tidak ada apa-apa yang terjadi. Hanya sikuku yang lecet berbenturan dengan aspal saat aku berlari dan langsung memeluk hyunjoong. Rok panjangku sedikit terkoyak. Aku merintih. Tampaknya lututku juga kena.

Sang pemilik mobil merah sialan ini!!! Keluar dari mobil. Tentu saja aku akan mendampratnya habis-habisan. Masa sih dia tidak dapat melihat seekor anjing ada disini. Hanya karena jalanan kosong melompong. Bukan berarti dia bisa memakai jalanan ini seperti miliknya sendiri. Aku mencoba untuk bangun. Tapi tubuhku tak dapat mengizinkannya. Dengan berat hyunjoong yang semakin bertambah setiap harinya.

Suara berdebum pelan terdengar. Sang pemilik mobil berlari-lari kecil ke arah depan mobilnya. Aku akan lihat jika dia memeriksa apa yang didepannya/ apa yang sudah hampir ditabraknya berarti dia adalah orang yang baik. Jika dia akan memeriksa keadaan mobilnya terlebih dahulu aku akan langsung menamparnya.

“Gwencanayo??” inilah dia berdiri didepanku. Menatapku sedih. Dia mencari-cari bagian tubuhku yang sakit kemudian menjulurkan tangannya untuk menolongku seperti waktu itu.

“HyunJoong-ssi?” sekarang dia berpakaian rapi. Dia memakai jeans berwarna hitam memakau kaus dibalik rompinbya berwarna hijau lime. Dan tanpa sadar aku menitikkan air mataku.

Kelihatannya dia tahu aku tidak dapat berdiri dengan baik walaupun dia sudah menjulurkan tangannya. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggangku. Mengangkatku dengan sangat mudah. Seperti aku hanya boneka biasa. Kedekatan kami membuat aku sesak nafas. Dia membantuku berjalan masuk ke dalam mobilnya.

Jangan lupa bernafas. Aku mengingatkan diriku sendiri. Hyunjoong sudah berada di sebelahku. Tapi ia tak kunjung menghidupkan mesin.

“jadi kau kemana saja selama ini?” tanyaku padanya. Seperti orang bodoh. Aku mengucapkannya seperti orang yang sedang diterapi. Mengucapkan kata-kata itu satu persatu. Tapi aku yakin HyunJoong dapat mendengarnya dengan jelas.

“aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Bahkan aku tidak sempat pulang ke rumah hanya untuk tidur.” Katanya sambil menaikkan kunci mobil untuk menghidupkan mesin. Dia melakukannya dengan sangat enggan. “aku terpikir untuk kembali lagi kesini. Datang untuk melihat-lihat keadaan.” Ia terhenti sebentar “sejujurnya aku ingin melihatmu.. dan hyunjoong kecil” tangannya yang bebas mengelus hyunjoong “tak kusangka kita akan bertemu dalam keadaan yang seperti ini.” Dia tertawa, terkekeh. Matanya menyipit setiap kali tawa menghiasi wajahnya. Kemudian aku menunduk malu.

“ini kedua kalinya kau menjulurkan tanganmu padaku.” Aku mengatakan kalimat itu dengan berbisik. Dan HyunJoong tertawa lagi.

“lain kali kau harus menjulurkan tanganmu juga” ia menolehkan wajahnya padaku. Dan membuatku tersipu malu. Biasanya wajahku tidak gampang memerah. Tapi aku yakin wajahku sudah seperti kepiting rebus sekarang. “apakah kau sudah makan?”.

…..OOO^^OOO…..

HyunJoong menungguku di ruang tamu bersama anjingku. Saat aku kembali dari bersih-bersih *seperti mandi dan memakai pakaian yang lebih pantas, dan merapikan rambutku*, HyunJoong melakukan hal yang sama bersama hyunjoong seperti di PetShop waktu itu. Dia menggendong hyunjoong dan kemudian mereka berdua sama-sama menunjuk-nunjuk semua foto yang ada disana. Kemudian aku menjadi pemandu wisata HyunJoong dirumahku sendiri.

Aku menjelaskan beberapa foto. Foto keluarga, album foto aku saat kecil, kemudian foto-foto nersama teman sekolah dan foto organisasi lainnya. Dan aku tidak tahu kenapa HyunJoong menganggap itu sesuatu yang bagus, dia mendengarkan setiap ocehanku dengan khidmat.

“jadi apakah kita akan makan malam dirumah saja?” olokku saat sudah tepat jam 7 malam. Kami bisa terlambat makan malam. Tapi HyunJoong berkeras ingin makan diluar dan mengajak hyunjoong. Tampaknya dia akan memilih tempat makan yang dapat dimasuki anjing juga.

…………….

“kita sudah sampai” aku dan hyunjoong masuk ke dalam restoran atau cafe.. aku bingung. Tempat seperti yang sudah pernah kulihat sebelumnya.

“apakah ini tempat kalian shooting thanks for raising me up? Saat bersama daengi dulu?” aku membelalakkan mataku tidak percaya. Tempat ini dipenuhi binatang lainnya. Bahkan banyak sekali anjing disini. Tanpa disuruh hyunjoong langsung bermain ke tengah teman-teman anjingnya yang lain. Dan HyunJoong menarikku ke arah meja makan kami.

“tempat ini bagus.” Katanya tetap tersenyum ramah kemudian memesakan makanan untuk kami berdua.

“bolehkan aku bertanya kenapa waktu itu kau tidak ingin kita bertukar nomor telepon? Apakah kau tidak ingin diganggu?” tanyaku hati-hati.

“kaupikir karena itu?” dia menaikkan sebelah alisnya tidak percaya. “bukan karena itu. Aku merusak Hpku. Bagaimana mungkin aku bisa bertukar nomor?” dia langsung mengeluarkan Hpnya dari sakunya, meletakkannya di atas meja kemudian menyodorkannya padaku. Aku langsung menulis nomorku dan menyerahkan Hpku padanya.

Aku teringat sesuatu. “hmm.. bolehkah kalau aku meminta nomor Heo Young Saeng?” pintaku padanya.

“untuk apa?” tampaknya HyunJoong sedang menimbang-nimbang.

“aku membutuhkannya. Seseorang pasti akan senang sekali saat aku memberitahukannya nomor saengi.”

“hmm..” HyunJoong masih berpikir. “Yasudah ini.” HyunJoong membuka kontaknya dan langsung menunjukkan rincian nomor Heo Young Saeng ss501. Aku menyatatnya dengan cepat. “Kurasa tidak apa-apa. Tidak apa-apa.. mungkin dia hanya akan membunuhku.” Kemudian dia mulai tertawa lagi. Kali ini aku ikut tertawa bersamanya.

Setelah menyantap makan malam, HyunJoong mengantar kami ke rumah.

“selamat malam.”aku melambaikan tanganku ke arah HyunJoong. Dia membalas melambaikan tangannya setelah membuka kaca jendela mobil untuk melihatku dengan jelas.

“semoga malammu menyenangkan.” Katanya padaku dan aku meringis. Dia keluar dari mobil. Belum mematikan mesin. Sebelah tangannya meraih tanganku. “jangan menangis lagi. Aku tahu.. aku melihat matamu sembab.. terlebih lagi bengkak. Tidakkah kau sadar?” sekarang dua tangannya memegangi kedua tanganku. Aku tidak dapat menjawabnya. Aku hanya mengeluarkan nafas berat.

HyunJoong melingkarkan sebelah tangannya di leherku. “sekarang kau dapat menelponku saat kau sedang sedih. Aku akan mengangkatnya.” Aku mengangguk. Menundukkan wajahku mataku perih, aku tidak mau menangis lagi.

“semoga malammu menyenangkan.” Suaraku serak.

“apakah kau akan memimpikanku?” dari nadanya aku tahu dia tersenyum.

Aku mengangguk aku yakin hal itu benar. Tapi menyedihkan jika sekarang aku harus berpisah. Tidak ada pembuktian apapun untuk menjamin apakah hari seperti ini akan datang lagi atau tidak. Hanya nomor teleponnya yang kupunya.

“aku akan memimpikanmu.. tentu saja.” Aku memutar bola mataku yang sudah berkaca-kaca. “tapi kau tidak akan memimpikanku.” Aku meraih pinggangnya dan memeluknya. Dan membenamkan wajahku di dadanya yang bidang.

Dia tertawa lagi dan melingkarkan tangannya yang sebelah lagi di leherku. “kuharap aku bisa memimpikanmu.” Dia berbisik ditelingaku. Hembusan nafasnya sangat nyaman. “tapi biasanya aku tidak bermimpi. Gelap dimana-mana.” Kemudian dia terkekeh lagi, dan aku sedikit ternyenyum. “selamat malam.” Ulangnya lagi aku tahu dia harus pergi sekarang. Aku memeluknya erat satu kali, dan merasakan aroma tubuhnya kemudian membiarkannya pergi. “sudah malam. Kau harus masuk sekarang.” Sekarang omongannya seperti ayahku.

“Yes sir!” aku memberikan penghormatanku dan melambai lagi. Kemudian masuk ke dalam rumah. Mengintipnya pergi dari daun jendela. Aku akan mengenang keindahan malam ini. Merekamnya di dalam otakku.

 

Satu lagi kenangan yang tak terlupakan.

 

*The End*

Advertisements

About 501island

Hi, There! Just visit this fansite^^ fanfiction, news, and others.. let's play around

3 responses »

  1. key says:

    kerrrreeen bgt,berasa Q yg ngalamin ni cerita…lanjut trz y ngrang’e… faighting

  2. HyeMi^^ says:

    huaa..
    bru nemu FF ini.
    crita.a bguus bgt!!
    bner2 ngrasa jdi main cast.a xD #plak!
    gomawo thor.. fighting!

  3. specialshin says:

    PAPI HYUUN PAPI HYUUUN~~
    AKU CINTA PAPI HYUUN LOLOLOLOLOL xDD
    gatau gimana apapun deksripsi fanfiction tentang dia selalu keren lah LOL
    daebak xD
    keep on writting XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s